BISNISMARKET.COM - Sektor industri alas kaki Indonesia tengah menghadapi dinamika global yang kompleks, di mana tantangan pelemahan daya beli di pasar ekspor utama menjadi isu sentral. Perkembangan ini diungkapkan langsung oleh Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Anton J. Supit, mengenai situasi industri saat ini.
Saat ini, kinerja ekspor alas kaki nasional masih sangat bergantung pada permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa, dua pasar besar yang kini mengalami perlambatan ekonomi. Akibatnya, pelemahan daya beli di kedua kawasan tersebut secara langsung memberikan dampak signifikan terhadap kinerja ekspor industri alas kaki nasional.
Lebih lanjut, hambatan investasi menjadi salah satu persoalan serius yang menghambat pengembangan sektor padat karya ini. Iklim investasi yang dirasakan kurang ramah oleh para investor menyebabkan terhambatnya potensi industri alas kaki untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja di Indonesia.
Ironisnya, di tengah adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Indonesia seharusnya dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk menarik arus investasi baru. Namun, berbagai kendala domestik masih menjadi penghalang utama bagi masuknya investor asing.
"Persoalan kepastian hukum terkait izin, kebijakan lingkungan, tenaga kerja hingga gangguan Ormas masih menjadi persoalan," ujar Anton J. Supit mengenai hambatan investasi yang dihadapi. Hal ini menunjukkan perlunya perbaikan substansial dalam tata kelola investasi.
Saat ini, negara-negara kompetitor seperti India dan Bangladesh mulai menjadi destinasi menarik bagi para investor di sektor persepatuan global. Kondisi ini memaksa Indonesia untuk segera berbenah agar tidak kehilangan momentum investasi yang krusial.
Anton J. Supit menekankan pentingnya perbaikan cepat, "Indonesia harus dapat mengatasi hambatan investasi agar investor tertarik masuk RI," kata beliau. Langkah proaktif diperlukan untuk menjaga daya saing di kancah internasional.
Potensi pasar alas kaki global sangatlah besar, diperkirakan mencapai USD 400 miliar, sementara kontribusi ekspor Indonesia masih berada di angka USD 7 Miliar. Kesenjangan yang lebar ini mengindikasikan peluang besar untuk meningkatkan investasi dan penetrasi pasar.
Selain menarik investasi, penguatan ekosistem industri pendukung juga menjadi kunci utama keberlanjutan sektor ini. Industri pendukung seperti penyedia bahan baku kulit, produsen tali sepatu, hingga aksesoris harus diperkuat secara paralel.