BISNISMARKET.COM - Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di Indonesia menunjukkan perkembangan positif yang sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Hal ini disampaikan oleh para pelaku industri energi terbarukan di Tanah Air.
Namun, optimisme tersebut masih dibayangi oleh kendala struktural yang dihadapi oleh sektor industri PLTS atap saat ini. Tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya ketergantungan pada bahan baku yang masih harus dipenuhi melalui jalur impor.
Mada Ayu Habsari, sebagai Founder Enertech Mitra Solusi sekaligus Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), menyoroti isu krusial ini dalam sebuah dialog di Jakarta. Isu bahan baku impor ini menjadi hambatan signifikan dalam mempercepat adopsi teknologi energi bersih ini.
"Meski demikian tantangan terkait ketergantungan bahan baku impor dalam pengembangan PLTS Atap masih menjadi persoalan yang dihadapi industri," ujar Mada Ayu Habsari.
Permasalahan ketergantungan impor ini memerlukan respons strategis dari berbagai pihak, terutama pemerintah, untuk memastikan keberlanjutan dan kemandirian industri energi surya nasional.
Oleh karena itu, pelaku industri mengharapkan adanya dukungan nyata dari pemerintah guna mengakselerasi pembangunan industri manufaktur komponen pendukung PLTS atap di dalam negeri. Hal ini penting untuk mengurangi risiko rantai pasok global.
Strategi pengembangan industri PLTS atap yang komprehensif menjadi topik pembahasan penting untuk mengatasi hambatan impor tersebut. Hal ini akan memastikan bahwa transisi energi berjalan lebih mulus dan berkelanjutan.
Seluruh pembahasan mengenai strategi ini diuraikan secara mendalam dalam dialog yang dipandu oleh Syarifah Rahma. Dialog ini berlangsung dalam program Squawk Box, CNBC Indonesia, pada hari Selasa, 05 Mei 2026.
Dilansir dari CNBC Indonesia, dialog tersebut menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk menyuarakan kebutuhan industri demi masa depan energi surya Indonesia yang lebih mandiri.