JAKARTA, BisnisMarket.com - Pemerintah Indonesia mulai mengoptimalkan pengelolaan kas negara sebagai instrumen fiskal baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Langkah ini diharapkan dapat melengkapi peran belanja negara yang selama ini hanya berkontribusi sebagian kecil terhadap aktivitas ekonomi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa belanja pemerintah hanya menyumbang sekitar 7% hingga 10% terhadap aktivitas ekonomi.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya menggerakkan sekitar 90% aktivitas ekonomi yang berasal dari sektor swasta melalui pengelolaan kas negara yang lebih optimal.

"Saya perhatikan bahwa manajemen cash, manajemen uang pemerintah bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia secara signifikan. Itu bisa menghidupkan yang 90 persen ekonomi selain belanja langsung yang 7% hingga 10%," ujar Purbaya dalam keterangannya, Sabtu (11/7).

Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah menempatkan dana pemerintah yang sebelumnya tersimpan di Bank Indonesia ke dalam sistem perbankan.

Dana ini diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan nasional, sehingga meningkatkan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit. Kebijakan ini juga berkontribusi terhadap peningkatan base money (M0), yang dapat mendukung transmisi kebijakan moneter tanpa mengganggu independensi Bank Indonesia.

Pemerintah juga telah melakukan penempatan dana negara di perbankan saat aktivitas ekonomi melambat pada Mei dan Juni tahun ini. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat likuiditas perbankan agar penyaluran kredit tetap tumbuh dan aktivitas ekonomi kembali bergairah.

"Jadi saya taruh di perbankan Rp400 triliun, itu akan memperkuat kondisi likuiditas perbankan sehingga mereka bisa memberikan kredit dan ekonominya bisa tumbuh lagi," jelas Purbaya.