JAKARTA, BisnisMarket.com -
Di tengah gejolak dan dinamika industri perbankan yang terus berubah, hanya
sedikit institusi yang mampu menjaga kestabilan sekaligus terus tumbuh melesat.
Salah satu yang terbukti mampu melakukannya adalah PT Bank Central Asia Tbk
(BBCA). Bagaimana caranya mempertahankan fondasi sekokoh karang sambil terus
meluaskan manfaatnya bagi masyarakat luas?
Dilansir dari Bloomberg Technoz diakses pada (11/7),
BCA baru saja meraih apresiasi bergengsi sebagai “Top Company in Banking
Solidity” dalam ajang Indonesia Top Companies Recognition 2026. Penghargaan ini
diberikan berdasarkan penilaian mendalam terhadap “fundamental keuangan,
kualitas aset, kemampuan menjaga pertumbuhan bisnis, serta komitmen perusahaan
dalam menciptakan nilai berkelanjutan bagi perekonomian nasional.”
Kinerja Keuangan yang Membuktikan Kekuatan
Memasuki tahun 2026, BCA kembali menunjukkan kinerja
yang sangat solid. Pada kuartal I-2026 saja, perseroan berhasil membukukan laba
bersih sebesar Rp14,7 triliun. Hasil gemilang ini tidak datang begitu saja,
melainkan didukung oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang sehat dan kualitas
aset yang tetap terjaga dengan baik.
Sepanjang tiga bulan pertama tahun tersebut, total
kredit yang disalurkan mencapai Rp994 triliun, meningkat 5,6 persen
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendorong utamanya adalah
kredit produktif yang menyentuh angka Rp760,2 triliun atau tumbuh 7,8 persen
secara tahunan. Lebih mengagumkan lagi, penyaluran kredit bagi sektor Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melonjak lebih tinggi, yakni 12 persen
menjadi Rp146 triliun.
Manajemen Risiko dan Likuiditas yang
Terjaga
Pertumbuhan yang pesat tidak lantas membuat BCA lengah
dalam mengelola risiko. Rasio kredit bermasalah atau NPL tercatat hanya 1,8
persen, sedangkan rasio Loan at Risk berada di level 5,1 persen. Keamanan
diperkuat dengan pencadangan yang sangat kuat, yaitu rasio pencadangan terhadap
NPL mencapai 174,6 persen dan terhadap LAR sebesar 69,7 persen.
Sisi likuiditas pun tetap kokoh. Hingga akhir Maret
2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1.292,4 triliun, naik 8,3
persen secara tahunan. Sebanyak 85,2 persen dari dana tersebut atau setara
Rp1.089 triliun merupakan dana murah berupa tabungan dan giro. “Dominasi dana
murah tersebut menjadi salah satu faktor penting yang menopang efisiensi biaya
dana sekaligus menjaga stabilitas operasional BCA.”
Lebih dari Sekadar Keuntungan