JAKARTA, BisnisMarket.com - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN seharusnya menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi. Namun, untuk semester kedua tahun 2026, pandangan justru mengarah pada satu pertanyaan besar: seberapa kokoh struktur fiskal Indonesia saat ini? Proyeksi terbaru menunjukkan ketidakseimbangan yang cukup mencolok, membuat para pengamat ekonomi menyoroti kerentanan yang tersembunyi di balik angka-angka anggaran.

Defisit Melebar, Belanja Melampaui Batas

Dilansir dari Bloomberg Technoz (10/7), Menteri Keuangan Purbaya menyampaikan bahwa defisit APBN 2026 diperkirakan akan melebar menjadi sebesar Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibandingkan target awal yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen PDB.

Pelebaran defisit terjadi karena proyeksi belanja negara melampaui pagu anggaran yang disiapkan. Secara keseluruhan, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari batas yang ditetapkan. Di dalamnya termasuk anggaran subsidi dan kompensasi energi yang membengkak menjadi Rp132 triliun akibat gejolak harga minyak dunia.

Pendapatan Bergantung pada Keberuntungan Komoditas

Di sisi penerimaan, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp3.208,1 triliun atau sekitar 101,7 persen dari rencana awal. Namun, struktur perolehannya mengundang kekhawatiran. Penerimaan pajak justru diproyeksikan hanya mencapai 97,7 persen dari target, dengan kekurangan sekitar Rp47 triliun.

Sebaliknya, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menjadi penopang utama dengan capaian diproyeksikan melampaui 125,2 persen target. Menurut Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, “Ini menunjukkan bahwa kenaikan tersebut lebih banyak berasal dari keuntungan lonjakan harga komoditas daripada perbaikan basis penerimaan yang berkelanjutan.”

Ketergantungan ini menjadi risiko tersendiri. Mengacu pada pandangan Bank Indonesia dalam laporan Stabilitas Ekonomi 2025, ketergantungan fiskal pada sektor sumber daya alam membuat posisi anggaran sangat rentan terhadap perubahan harga pasar global yang sulit diprediksi.

Ruang Fiskal Semakin Sempit