JAKARTA, BisnisMarket.com -
Akankah target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen di akhir tahun
2026 dapat tercapai? Lembaga keuangan dunia memberikan angka yang lebih rendah,
namun pemerintah tetap optimis dan meyakinkan bahwa fondasi perekonomian
nasional tetap kuat dan bergerak ke arah positif.
Kinerja Awal Tahun Lebih Baik dari
Perkiraan
Dilansir dari Bloomberg Technoz (10/7), Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa meski
proyeksi dari lembaga internasional berada di kisaran 5 persen, hal itu tetap
menunjukkan posisi perekonomian Indonesia yang stabil dibandingkan kondisi
global.
“Dari berbagai lembaga baik itu IMF, Bank Dunia,
maupun OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi kita masih dalam kisaran sekitar
5 persen. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan kokoh,”
tegas Airlangga.
Data resmi Badan Pusat Statistik menunjukkan kinerja
yang memuaskan pada kuartal I tahun 2026, di mana ekonomi tumbuh sebesar 5,61
persen. Pada periode tersebut, nilai Produk Domestik Bruto atas harga berlaku
mencapai sekitar 6.187,2 triliun rupiah, sedangkan atas harga konstan mencapai
3.447,7 triliun rupiah. Sementara itu, Dana Moneter Internasional
memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2026 dan sedikit naik
menjadi 5,1 persen pada 2027. Angka ini tetap jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi
pertumbuhan ekonomi global yang hanya berkisar antara 3 persen hingga 3,4
persen dalam periode yang sama.
Defisit Perdagangan: Mengapa Terjadi?
Catatan penting muncul pada kinerja perdagangan bulan
Mei 2026, di mana Indonesia mencatat defisit senilai sekitar 25,76 triliun
rupiah (berdasarkan kurs 1 USD = Rp16.000). Ini merupakan defisit pertama
setelah enam tahun berturut-turut mengalami surplus.
Airlangga menjelaskan penyebab utamanya: “Kemarin
memang negatif karena impor bahan bakar minyak harganya sedang melonjak.
Sedangkan ekspor komoditas utama seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro
paduan nilainya cenderung stabil.”
Secara rinci, defisit terjadi pada sektor minyak dan
gas sebesar sekitar 60,16 triliun rupiah, sementara sektor nonmigas masih
mencatat surplus sekitar 34,4 triliun rupiah. Menurut laporan dari Bank
Indonesia, kondisi ini bersifat sementara dan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi
harga energi di pasar internasional.