BISNISMARKET.COM - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), secara terbuka menyatakan kekesalannya terhadap tudingan yang dilontarkan oleh Rismon Sianipar. JK dituduh sebagai pihak yang memberikan sokongan dana atau "bohir" dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik.com pada Minggu (19/4/2026), JK mengaku sempat beberapa kali dihubungi oleh Rismon dan Roy Suryo. Namun, pria asal Makassar tersebut menegaskan selalu menolak permintaan komunikasi tersebut demi menjaga posisinya agar tetap netral.
"Persoalan mengenai Rismon ini telah menyeret banyak pihak, mulai dari saya, Puan, hingga SBY, yang sebenarnya hanyalah upaya pengalihan isu semata. Saya merasa geram karena dituding memberikan dana Rp 5 miliar, padahal saya tidak pernah memberi uang tersebut, bahkan tidak mengenal atau pernah bertemu dengannya, dan bukti percakapan WhatsApp menunjukkan saya menolaknya," tegas Jusuf Kalla saat jumpa pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
JK kemudian mengingatkan kembali sejarah perjalanan politik Joko Widodo yang menurutnya tidak lepas dari campur tangan dirinya. Ia menceritakan bahwa ialah sosok yang menyodorkan nama Jokowi kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta.
Lebih lanjut, JK mengungkapkan bahwa Megawati Soekarnoputri awalnya hanya bersedia menandatangani pencalonan Jokowi sebagai presiden jika JK bersedia mendampingi sebagai wakil presiden. Hal ini dikarenakan Megawati menilai Jokowi masih membutuhkan bimbingan dari sosok yang lebih berpengalaman.
"Saat saya bertanya mengapa saya harus menjadi wakil, Ibu Megawati menjawab bahwa itu dikarenakan saya adalah sosok yang paling berpengalaman sehingga diharapkan bisa membimbing beliau," tutur Jusuf Kalla mengenang percakapannya dengan Megawati.
Pada masa itu, JK sebenarnya sudah berencana untuk pensiun dan kembali ke kampung halamannya di Makassar. Namun, permintaan mendesak dari Megawati membuatnya mengurungkan niat tersebut demi mengawal kepemimpinan Jokowi yang kala itu dianggap belum memiliki pengalaman cukup di tingkat nasional.
"Ibu Megawati meminta saya untuk mendampingi beliau karena menganggap saya lebih berpengalaman, bahkan beliau tidak bersedia menandatangani pencalonan jika saya bukan wakilnya. Jadi tolong sampaikan kepada para pendengung itu, bahwa beliau tidak akan pernah menjadi Gubernur jika bukan karena peran saya," ungkap Jusuf Kalla dengan nada bicara yang tegas.
Pernyataan keras ini disampaikan JK saat merespons pertanyaan wartawan mengenai laporan polisi terkait video ceramahnya tentang istilah 'mati syahid' di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia ditanya apakah merasa sedang dipolitisasi melalui kasus ceramah tersebut.