BISNISMARKET.COM - Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), menyuarakan harapan besar agar penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah dapat menjadi katalisator utama bagi terwujudnya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan momen suci ini secara strategis.

HNW secara khusus meminta kepada Pemerintah Republik Indonesia agar menggunakan kesempatan penyelenggaraan haji ini sebagai landasan untuk mendesak penghentian segera atas berbagai konflik yang masih berkecamuk di wilayah tersebut. Langkah proaktif ini dianggap krusial bagi stabilitas kawasan.

Sebagai anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), HNW meminta kepada otoritas pemerintah, termasuk Kementerian Agama yang mengurus urusan Haji dan Umrah, untuk segera mengaktifkan saluran diplomasi. Diplomasi ini harus menyasar aktor-aktor kunci regional dan global.

Diplomasi yang dimaksud harus melibatkan komunikasi intensif dengan pihak-pihak seperti Amerika Serikat, Iran, serta negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Tujuannya adalah menciptakan zona aman selama pelaksanaan ritual haji.

Tujuan utama dari upaya diplomasi ini adalah mendorong semua pihak yang terlibat dalam perseteruan untuk menunjukkan sikap menahan diri (self-restraint). Selain itu, mereka diharapkan menunjukkan penghormatan penuh terhadap pelaksanaan ibadah haji oleh umat Islam sedunia.

"Ia meminta pemerintah diminta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendorong penghentian konflik di kawasan," ujar Hidayat Nur Wahid mengenai urgensi diplomasi haji ini.

Menurut pandangan HNW, langkah-langkah diplomatik preventif ini sangat penting demi memastikan bahwa pelaksanaan haji 1447 H/2026 dapat berjalan dengan lancar, aman, dan nyaman. Kelancaran ini tidak boleh terganggu oleh dinamika konflik politik di Timur Tengah.

HNW menyoroti posisi strategis Indonesia dalam konteks haji global. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki kepentingan besar karena merupakan negara pengirim jamaah haji terbanyak di dunia pada tahun tersebut, mencapai kuota 221 ribu orang.

"Indonesia sebagai pengirim jamaah terbanyak, yakni 221 ribu orang, sangat berkepentingan terhadap kelancaran haji," kata Wakil Ketua MPR RI tersebut, menegaskan taruhan besar Indonesia dalam menjaga stabilitas prosesi haji.