BISNISMARKET.COM - Pergantian pucuk pimpinan di Republik Islam Iran selalu menjadi sorotan utama dunia internasional, terutama bagi negara-negara dengan hubungan tegang seperti Amerika Serikat. Isu terbaru muncul mengenai ketidaksenangan pihak Washington terhadap figur yang kini memimpin Teheran.
Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru tampaknya tidak disambut baik oleh pemerintahan Amerika Serikat. Informasi ini pertama kali menyebar melalui sebuah program televisi terkemuka di AS, memicu spekulasi mengenai dinamika politik Timur Tengah ke depan.
Sumber informasi mengenai reaksi ini berasal dari pembawa acara Fox News, Brian Kilmeade. Ia menjadi perantara yang menyampaikan pandangan langsung dari Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, mengenai suksesi kepemimpinan di Iran.
Ketidakpuasan tersebut disampaikan secara eksplisit oleh Trump kepada Kilmeade. Hal ini mengindikasikan adanya potensi peningkatan ketegangan diplomatik antara kedua negara pasca pergantian pemimpin tersebut.
Menurut penuturan Kilmeade, Presiden AS tersebut secara gamblang menyatakan perasaannya mengenai pilihan Iran tersebut. Informasi ini diungkapkan kepada publik pada hari Senin, 9 Maret 2026.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin (9/3/2026), Brian Kilmeade membeberkan percakapannya dengan kepala negara AS. Ia menyatakan bahwa sang presiden telah mengungkapkan perasaannya secara langsung kepadanya.
"Saya tidak senang," ujar presiden AS itu merespons pilihan Iran atas Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara yang baru, kata Brian Kilmeade. Kutipan ini menjadi titik fokus utama dalam pemberitaan mengenai reaksi AS.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Donald Trump sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi ataupun komentar terbuka mengenai pengangkatan Mojtaba Khamenei. Keheningan dari Gedung Putih ini menambah lapisan misteri di balik ketidakpuasan yang disampaikan secara informal.
Keputusan Iran untuk menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi jelas menciptakan ketidakpastian baru dalam peta geopolitik regional. Reaksi informal dari pemimpin AS ini menjadi indikator kuat arah hubungan bilateral di masa mendatang.