BISNISMARKET.COM - Ketegangan di Selat Hormuz memasuki babak baru setelah Iran secara resmi mengumumkan pembukaan kembali jalur energi paling vital di dunia tersebut. Namun, klaim sepihak dari Teheran ini berbanding terbalik dengan realitas di lapangan yang menunjukkan keraguan besar dari para pelaku pelayaran internasional.

Berdasarkan data pelacakan kapal pada Jumat malam (17/4/2026), sejumlah kapal niaga terpantau gagal keluar dari kawasan Teluk. Situasi ini tetap terjadi meski Iran telah menjanjikan keamanan navigasi selama masa gencatan senjata 10 hari di Lebanon, dilansir dari Reuters.

Pengumuman pembukaan jalur tersebut sempat memberikan angin segar bagi pasar global dengan turunnya harga minyak bumi dan penguatan bursa saham. Namun, data dari MarineTraffic mengungkap bahwa sekitar 20 kapal yang awalnya menuju selat justru memilih berhenti atau berbalik arah sebelum mencapai tujuan.

Pergerakan ini merupakan upaya pelintasan kelompok kapal terbesar sejak Iran menutup akses selat secara efektif pada akhir Februari lalu. Penutupan tersebut sebelumnya dilakukan sebagai bentuk respons atas eskalasi serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Terdapat tiga kapal kontainer milik perusahaan raksasa CMA CGM dalam kelompok yang tertahan tersebut. Hingga saat ini, pihak manajemen perusahaan pelayaran tersebut memilih untuk tidak memberikan pernyataan resmi terkait alasan penghentian pelayaran mereka.

"Seluruh kapal komersial, termasuk yang menggunakan bendera Amerika Serikat, kini diizinkan untuk melintas dengan syarat wajib berkoordinasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC)," ungkap seorang pejabat senior Iran.

Pejabat tersebut juga menegaskan bahwa kapal-kapal hanya diperbolehkan melewati jalur-jalur yang telah ditentukan dan dianggap aman oleh pihak Iran. Sementara itu, larangan melintas masih tetap berlaku secara ketat bagi seluruh kapal militer asing.

"Kami saat ini tengah melakukan verifikasi mendalam terhadap pengumuman pembukaan Selat Hormuz guna memastikan kepatuhan terhadap kebebasan navigasi dan keamanan jalur pelayaran bagi kapal dagang," kata Arsenio Dominguez selaku Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional.

Para pelaku industri pelayaran menilai situasi di Selat Hormuz masih sangat riskan dan jauh dari kata kondusif untuk operasional normal. Isu keberadaan ranjau laut dan ketidakjelasan regulasi di lapangan menjadi faktor utama yang menghambat kembalinya arus logistik.