BISNISMARKET.COM - Joko Widodo atau Jokowi, Presiden Ketujuh Republik Indonesia, kini resmi dipercaya sebagai anggota dewan penasihat Bloomberg New Economy. Penunjukan ini bukan hanya sebuah pengakuan atas rekam jejak kepemimpinannya, tetapi juga langkah strategis yang menempatkan Indonesia sebagai bagian dari percakapan global tentang masa depan ekonomi dunia.
Melalui posisi ini, Jokowi diharapkan dapat menyuarakan kepentingan negara berkembang sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi ekonomi internasional.
Bloomberg New Economy sendiri lahir pada 2018 sebagai sebuah platform yang digagas oleh Michael Bloomberg. Tujuannya adalah mempertemukan para pemimpin dunia dari beragam sektor, pemerintahan, bisnis, akademisi, hingga teknologi untuk membahas isu-isu global yang mendesak.
Isu-isu tersebut meliputi transformasi digital, ketimpangan ekonomi, ketahanan energi, perubahan iklim, hingga arah geopolitik baru yang memengaruhi perdagangan internasional. Dengan menghadirkan berbagai perspektif, forum ini berupaya menciptakan rekomendasi yang dapat dijadikan acuan oleh pembuat kebijakan maupun pelaku industri.
Secara struktur, Bloomberg New Economy memiliki tiga pilar utama, forum tahunan berskala internasional, kelompok kerja tematik atau coalitions, serta dewan penasihat global. Forum internasional biasanya diselenggarakan di kota-kota strategis dunia, salah satunya Singapura, yang menjadi tuan rumah pertemuan penting pada November mendatang.
Di sisi lain, coalitions membahas tema spesifik seperti energi berkelanjutan, kota pintar, dan teknologi kesehatan. Adapun dewan penasihat berfungsi sebagai think tank, memberikan arahan strategis, serta mendorong dialog lintas negara dan sektor.
Kehadiran Jokowi dalam dewan penasihat memberi nilai tambah tersendiri. Sebagai pemimpin yang berpengalaman memimpin negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, ia memiliki otoritas untuk membicarakan tantangan sekaligus peluang bagi negara berkembang.
Manten presiden RI itu sendiri menekankan pentingnya intelligence dalam ekonomi masa depan, mulai dari real-time intelligence, future intelligence, hingga competitive intelligence, yang seluruhnya sangat relevan dalam era kecerdasan buatan, 5G, dan Internet of Things. Baginya, pengambilan keputusan berbasis data real-time adalah kunci bagi negara maupun perusahaan agar dapat bersaing di tingkat global.
Bagi Indonesia, posisi ini membuka peluang strategis. Pertama, memperluas jejaring diplomasi ekonomi dengan investor dan pemimpin dunia. Kedua, menjadi sarana untuk memperkenalkan capaian Indonesia di bidang infrastruktur, digitalisasi, dan transisi energi.