BISNISMARKET.COM - Presiden Joko Widodo, melalui pernyataan Presiden Prabowo Subianto, baru-baru ini menyoroti keberhasilan penurunan tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia hingga mencapai titik terendah. Informasi ini disampaikan saat pidato dalam acara penting World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.

Upaya berkelanjutan untuk pengentasan kemiskinan dan peningkatan taraf hidup masyarakat tetap menjadi fokus utama pemerintah Indonesia saat ini.

Seiring dengan upaya tersebut, terdapat beberapa indikator umum yang sering digunakan untuk mengelompokkan kondisi ekonomi masyarakat di berbagai tingkatan. Dilansir dari GoBankingRates, terdapat lima ciri utama yang sering melekat pada kelompok masyarakat yang berada di kelas menengah bawah hingga kelas bawah.

Salah satu indikator penting adalah mengenai tempat tinggal, mengingat pengeluaran untuk hunian merupakan salah satu beban finansial terbesar sebuah keluarga. Kesulitan dalam menyediakan tempat tinggal yang aman, nyaman, dan berada di lingkungan yang layak bisa menjadi penanda bahwa seseorang berada dalam kelompok kelas menengah bawah atau kelas bawah.

Selain itu, jenis pekerjaan yang digeluti juga menjadi penentu signifikan dalam klasifikasi sosial ekonomi. Pekerjaan yang tergolong kerah biru atau kerah putih sederhana, seperti sopir truk, pelayan restoran, pegawai ritel, atau petugas kebersihan, umumnya mencerminkan posisi pada tingkat ekonomi yang lebih rendah.

"Apabila seseorang bekerja dalam posisi manajerial atau pekerjaan yang membutuhkan spesialisasi, maka ia dianggap berada di kelas menengah," kata Nathan Brunner, CEO Salarship.

Sebaliknya, pekerjaan yang hanya menuntut keahlian dasar, bersifat sementara, menawarkan upah rendah, serta minim manfaat biasanya menempatkan individu pada status sosial kelas bawah. Namun, beberapa profesi seperti perawat, guru, akuntan, atau pekerja IT dapat berada di ambang batas kelas pekerja atau kelas menengah, tergantung pada sertifikasi dan tingkat senioritas mereka.

Kemampuan untuk menabung dan melakukan investasi menjadi penyangga keuangan krusial yang memberikan peluang pembangunan kekayaan jangka panjang. Sayangnya, membangun cadangan finansial semacam ini seringkali menjadi kemewahan yang tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat kelas bawah.

Artinya, jika seseorang tidak memiliki tabungan yang memadai atau rencana pensiun yang jelas, hal tersebut dapat dipastikan menempatkannya dalam golongan kelas bawah.