BISNISMARKET.COM - What (Apa yang terjadi): Harga minyak mentah global mengalami sedikit pelemahan pada perdagangan Rabu pagi (29/4/2026) setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan signifikan selama beberapa sesi perdagangan berturut-turut. Koreksi ini terjadi meskipun sentimen pasar masih didominasi oleh kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

When (Kapan): Pergerakan harga ini tercatat pada hari Rabu pagi, tepatnya pada tanggal 29 April 2026, hingga pukul 09.45 WIB, sebagaimana dikutip dari data Refinitiv. Penurunan ini menjadi jeda setelah Brent melonjak 12,8% sejak 17 April dan WTI naik 18,1% dalam periode yang hampir sama.

Where (Di mana): Pergerakan harga minyak ini diamati pada pasar komoditas global, dengan fokus pada patokan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI). Geopolitik yang mempengaruhi harga berpusat di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait dengan Iran dan Selat Hormuz.

Why (Mengapa terjadi koreksi): Penurunan harga pagi hari ini merupakan reaksi alami pasar setelah terjadi reli tajam dalam sepekan terakhir, memberikan sedikit ruang bagi para pelaku pasar untuk mengambil keuntungan. Namun, harga masih tertahan kuat karena adanya kekhawatiran fundamental mengenai rantai pasok energi global.

How (Bagaimana pergerakan harga): Data Refinitiv menunjukkan minyak Brent berada di level US$110,74 per barel, turun 0,47% dari penutupan sebelumnya di US$111,26 per barel. Sementara itu, minyak WTI melemah 0,87% ke posisi US$99,06 per barel dari posisi sebelumnya di US$99,93.

Why (Faktor pendukung kenaikan sebelumnya): Reli harga sebelumnya dipicu oleh adanya spekulasi bahwa Amerika Serikat berencana memperpanjang blokade terhadap pelabuhan Iran. "Reuters melaporkan Presiden Donald Trump telah meminta timnya menyiapkan opsi perpanjangan tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk membatasi aktivitas pelayaran menuju dan dari pelabuhan negara itu," ujar sumber berita, dilansir dari Reuters.

How (Dampak geopolitik): Kebijakan yang diisukan tersebut membuat pasar menilai bahwa potensi gangguan suplai energi dari Teluk Persia belum akan segera berakhir. Situasi ini diperparah karena jalur krusial Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20% distribusi minyak dan LNG dunia, masih berada dalam kondisi sensitif.

Why (Implikasi gangguan jalur laut): Gangguan yang terjadi di Selat Hormuz secara langsung menyebabkan penundaan kapal, peningkatan biaya logistik, serta hambatan distribusi ke pasar utama seperti Asia dan Eropa. Oleh karena itu, pelemahan harga yang terjadi saat ini lebih dipandang sebagai periode konsolidasi atau jeda setelah lonjakan harga yang sangat cepat.

How (Faktor fundamental pendukung harga tinggi): Di sisi fundamental, data persediaan minyak mentah Amerika Serikat memberikan penahan kuat bagi harga agar tidak jatuh terlalu dalam. Sebuah laporan industri menyebutkan bahwa stok minyak mentah AS mengalami penurunan sebesar 1,79 juta barel pada pekan lalu.