Pasar komoditas dunia tengah diguncang oleh ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Eskalasi konflik bersenjata ini menyebabkan kekacauan besar pada distribusi minyak mentah di tingkat global secara mendadak. Kondisi semakin memburuk setelah jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz mengalami penutupan efektif bagi kapal-kapal komersial.

Berdasarkan laporan Bloomberg, harga minyak jenis Brent mencatatkan kenaikan signifikan mencapai 13 persen ke level US$82 per barel. Lonjakan harga yang drastis ini dipicu oleh terhentinya lalu lintas kapal tanker di wilayah perairan lepas pantai Iran tersebut. Perlu diketahui bahwa Selat Hormuz merupakan titik krusial yang menyalurkan seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia.

Penghentian operasional kapal tanker sebagian besar merupakan inisiatif mandiri dari para pemilik kapal dan pedagang komoditas internasional. Langkah jeda ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan tinggi seiring meluasnya intensitas pertempuran di kawasan Timur Tengah. Para pelaku pasar mengkhawatirkan risiko keamanan yang mengancam aset mereka di tengah ketidakpastian situasi keamanan laut saat ini.

Pemerintah Iran melalui otoritas resminya sempat menyatakan pada hari Minggu bahwa jalur perairan utama tersebut tetap dibuka untuk umum. Namun, pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan pengakuan mereka yang telah melancarkan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak. Kontradiksi klaim ini menambah ketegangan di antara negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas mengenai keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik yang sedang berlangsung. Trump mengklaim bahwa pasukan AS telah berhasil menghancurkan dan menenggelamkan sembilan kapal angkatan laut milik Iran. Ia juga menegaskan bahwa operasi tempur akan terus berlanjut hingga seluruh target strategis yang ditetapkan dapat tercapai sepenuhnya.

Merespons situasi yang kian genting, kelompok OPEC+ telah mengadakan pertemuan akhir pekan yang sebelumnya memang sudah dijadwalkan. Hasil pertemuan tersebut menyepakati adanya peningkatan kuota pasokan minyak sebesar 206.000 barel per hari mulai bulan depan. Kelompok ini tetap berupaya menjaga stabilitas pasar meskipun anggota intinya sedang terlibat langsung dalam pusaran konflik bersenjata.

Langkah OPEC+ yang melibatkan Iran, Arab Saudi, dan Rusia ini sebenarnya diprediksi akan melanjutkan kenaikan produksi secara moderat. Namun, rencana tersebut harus berhadapan dengan kenyataan pahit pecahnya pertempuran besar yang dimulai sejak hari Sabtu lalu. Masa depan stabilitas harga energi global kini sangat bergantung pada perkembangan deeskalasi konflik di wilayah Selat Hormuz.

Sumber: Bloombergtechnoz

https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/101260/krisis-iran-ganggu-selat-hormuz-harga-minyak-melonjak-tajam