Padang - Di jantung Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), di antara bangunan-bangunan tua yang berderet rapat, berdiri sebuah kelenteng yang memancarkan aura magis. Warna merah menyala dan ukiran naga yang meliuk-liuk seolah berbisik tentang masa lalu yang penuh liku. Inilah Klenteng See Hien Kiong, bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga jendela yang membuka tabir sejarah etnis Tionghoa di Ranah Minang.
Menjelang Imlek 2026, kelenteng ini bersolek. Lampion-lampion digantung, lilin-lilin besar ditata, dan aroma dupa mulai memenuhi udara. Namun, di balik kemeriahan itu, ada cerita yang lebih dalam, tentang aksara-aksara yang sempat "menghilang" dan kini kembali hadir, menghiasi dinding-dinding kelenteng.
Jejak Panjang Sang "Balairung Suci"
Klenteng See Hien Kiong bukanlah bangunan kemarin sore. Ia telah berdiri sejak 1841, awalnya bernama Kwan Im Teng. Didirikan oleh marga Tjiang dan Tjoan Tjioe, kelenteng ini menjadi pusat spiritual bagi seluruh etnis Tionghoa di Padang. Sebuah genta tua menjadi saksi bisu pendiriannya.
Timnas Putri Indonesia Bersiap Hadapi Singapura di Bandung, Ujian Krusial untuk Peringkat FIFA
Sempat dilanda kebakaran hebat pada 1861, kelenteng ini kemudian dibangun kembali berkat inisiatif Kapten Lie Goan Hwat. Sepuluh tukang kayu didatangkan langsung dari Tiongkok untuk memastikan keaslian arsitektur. Pembangunannya memakan waktu lebih dari satu dekade, dimulai pada 1893 dan baru rampung pada 1905.
Nama "See Hien Kiong" sendiri mengandung makna mendalam. "See" berarti barat, "Hien" berarti timbul atau terbit, dan "Kiong" berarti balairung. Secara keseluruhan, "See Hien Kiong" berarti balairung tempat kedudukan suci agama yang terbit dari barat.

Papan Nama Dewa Dewi di Klenteng See Hien Kiong yang masih menggunakan aksara latin atau Indonesia (Foto Dharma Harisa via Kompas.com)
Ketika Aksara "Dibungkam"
Namun, perjalanan kelenteng ini tidak selalu mulus. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 membawa dampak besar bagi kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia. Melalui Inpres No. 14 Tahun 1967, segala aktivitas berbau Tionghoa di depan umum dilarang.
Di Padang, kebijakan ini memaksa pengurus kelenteng untuk menyamarkan identitas. Aksara Mandarin di dinding kelenteng diturunkan atau diganti dengan huruf latin. "Malahan di Kelenteng See Hien Kiong, rata-rata pakai aksara Indonesia atau latin," ujar Indra Lie, pengurus Klenteng See Hien Kiong, dilansir dari Kompas.com (16/2). "Adapun misal di arca-arca dewa dewi yang bisa kita lihat di klenteng saat ini, ada bahasa Tionghoa atau Mandarin, itu baru kita buat. Dulu tidak ada huruf Tionghoanya," tambahnya.