BISNISMARKET.COM - Situasi di perbatasan Lebanon selatan kembali mencekam setelah militer Israel melancarkan serangan artileri ke beberapa titik strategis. Serangan ini memicu kekhawatiran baru akan stabilitas kawasan yang sebelumnya sempat diharapkan membaik melalui jalur diplomasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, artileri Israel menyasar pemukiman di kota Beit Leif, Qantara, dan Touline yang terletak di wilayah Lebanon selatan. Aksi militer yang merusak ini dilaporkan terjadi pada hari Sabtu (18/4/2026) waktu setempat dilansir dari Al Jazeera.

Selain serangan artileri, pergerakan alat berat militer Israel juga terpantau masih sangat aktif di zona konflik tersebut. Sejumlah buldozer terus dikerahkan untuk melakukan operasi penghancuran dan meratakan rumah-rumah warga di beberapa wilayah Lebanon selatan.

Eskalasi ini terjadi hampir bersamaan dengan langkah mengejutkan dari Teheran yang memutuskan untuk menutup akses navigasi penting di kawasan tersebut. Hal ini menambah beban ketegangan geopolitik yang melibatkan banyak negara besar di dunia.

"Status Selat Hormuz kini kembali terbatas seperti semula dikarenakan perselisihan yang terus berlanjut dengan Amerika Serikat," ungkap pihak Iran dilansir dari Al Jazeera.

Di sisi lain, Washington tetap mempertahankan posisi militer yang agresif terhadap aktivitas ekonomi dan kedaulatan Iran. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari tekanan politik yang terus diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat.

"Militer Amerika Serikat akan tetap melakukan blokade di pelabuhan-pelabuhan milik Iran," tegas pihak otoritas Amerika Serikat dilansir dari CNBC Indonesia.

Padahal, harapan akan perdamaian sempat muncul ketika Israel dan Lebanon mengumumkan kesepakatan gencatan senjata pada Jumat (17/4/2026). Kesepakatan bersejarah tersebut merupakan hasil dari pembicaraan langsung yang dimediasi di Washington, Amerika Serikat.

Namun, realita di lapangan menunjukkan hal yang sangat berbeda karena pendudukan wilayah masih terus berlangsung secara masif. Israel tetap mempertahankan kehadiran militernya di wilayah Lebanon selatan meskipun dokumen gencatan senjata telah diumumkan secara resmi.