JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda membayangkan betapa besarnya dampak sebuah keputusan kebijakan terhadap anggaran negara? Sebuah langkah strategis baru-baru ini diambil oleh pemerintah yang berpotensi menghemat triliunan rupiah, namun juga menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang, terutama para siswa dan orang tua. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi andalan di banyak sekolah kini mengalami penyesuaian frekuensi. Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah upaya efisiensi anggaran yang signifikan, diperkirakan mencapai angka fantastis Rp 20 triliun.
Penyesuaian Frekuensi demi Efisiensi Anggaran
Dilansir dari Kompas.com (2/4), pemerintah memutuskan untuk membatasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah menjadi lima hari dalam sepekan. Kebijakan ini secara langsung berdampak pada anggaran negara, dengan taksiran penghematan mencapai Rp 20 triliun. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa penyesuaian ini dihitung untuk periode April hingga Desember 2026. "Ya, kita prediksi kurang lebih Rp 20 triliun per tahun," ungkap Dadan usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Inti dari pemangkasan ini adalah menghentikan distribusi MBG pada hari-hari libur sekolah. Dengan kata lain, siswa tidak akan lagi menerima jatah makan bergizi saat mereka tidak berada di lingkungan sekolah. Namun, pemerintah menegaskan bahwa kualitas makanan yang disajikan tidak akan mengalami perubahan sama sekali. Distribusi bantuan akan tetap disesuaikan dengan kehadiran para penerima manfaat. Sekolah yang menerapkan sistem lima hari belajar akan menerima jatah lima kali, sementara sekolah dengan enam hari belajar tetap akan menerima enam kali. "Untuk anak sekolah, untuk yang lima hari sekolah kita berikan lima hari, untuk yang enam hari kita berikan enam hari," jelas Dadan kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) .
Pengecualian untuk Daerah Khusus
Meskipun demikian, kebijakan ini tidak diterapkan secara merata di seluruh Indonesia. BGN tetap berkomitmen untuk menyalurkan MBG selama enam hari dalam sepekan di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta wilayah-wilayah yang memiliki tingkat stunting tinggi. Daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, serta beberapa wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur masuk dalam kategori pengecualian ini. "Di daerah-daerah 3T, kemudian juga daerah-daerah seperti NTT, Papua itu pasti tetap akan enam hari," tegas Dadan.
Keputusan ini diambil di tengah upaya pemerintah untuk menekan beban anggaran yang semakin meningkat akibat tekanan global, termasuk dampak dari konflik di Asia Barat. Selain penyesuaian pada program MBG, pemerintah juga menerapkan kebijakan efisiensi lainnya, seperti kebijakan work from home setiap Jumat bagi aparatur sipil negara. Langkah-langkah ini menunjukkan adanya penyesuaian prioritas program, di mana efisiensi anggaran menjadi fokus utama, meskipun harus ada konsekuensi berupa penyesuaian distribusi bantuan bagi sebagian penerima.
Penting untuk dicatat bahwa kebijakan ini tidak akan memengaruhi gaji para pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). "Tidak, tetap. Kan selama ini juga segitu," ujar Dadan, memastikan bahwa kesejahteraan para petugas tetap terjaga.
Penyesuaian program MBG ini menjadi sorotan, mengingat pentingnya asupan gizi bagi tumbuh kembang anak usia sekolah. Di satu sisi, efisiensi anggaran adalah hal yang krusial bagi kesehatan fiskal negara. Di sisi lain, memastikan kecukupan gizi bagi seluruh siswa, terutama di daerah yang membutuhkan, tetap menjadi prioritas. Bagaimana masyarakat akan menyikapi perubahan ini? Akankah ada dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan prestasi belajar siswa? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu akan terus menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. (*)