JAKARTA, BisnisMarket.com - Di banyak negara Muslim, menunaikan ibadah haji adalah murni pemenuhan rukun Islam kelima. Namun, di Indonesia, sepulangnya seseorang dari Tanah Suci, sebuah gelar baru biasanya akan tersemat di depan nama mereka: Haji (H.) untuk laki-laki dan Hajjah (Hj.) untuk perempuan.

Fenomena ini tergolong unik karena tidak ditemukan secara masif di negara-negara Arab atau negara mayoritas Muslim lainnya. Lantas, bagaimana tradisi ini bermula?

Banyak sejarawan mencatat bahwa penggunaan gelar Haji secara formal justru dipicu oleh kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada tahun 1911, Belanda mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap penduduk yang pulang dari Mekkah untuk menyandang gelar Haji.

Tujuannya bukan untuk menghormati, melainkan untuk pengawasan. Belanda merasa khawatir terhadap para jamaah haji yang dianggap membawa semangat pan-Islamisme dan potensi perlawanan terhadap penjajah setelah berinteraksi dengan Muslim dari berbagai belahan dunia. Dengan menyematkan gelar tersebut, Belanda lebih mudah memantau gerak-gerik para tokoh agama di desa-desa.

Seiring berjalannya waktu, makna gelar haji bergeser dari sekadar alat kontrol menjadi simbol perlawanan dan kehormatan. Di masa lalu, hanya orang-orang terpilih dan mampu secara finansial yang bisa berangkat ke Mekkah dengan perjalanan laut berbulan-bulan yang mempertaruhkan nyawa.

Sepulangnya ke tanah air, mereka dianggap sebagai kaum intelektual yang membawa ilmu baru. Hal ini membuat masyarakat memberikan penghormatan khusus melalui panggilan "Pak Haji" atau "Bu Haji".

Dalam konteks sosiologi masyarakat Indonesia, gelar haji sering kali membawa konsekuensi logis berupa tanggung jawab moral. Seseorang yang sudah bergelar haji diharapkan menjadi teladan dalam beribadah, berperilaku santun, dan menjadi rujukan dalam urusan agama di lingkungannya.

Tak jarang, para "Haji" ini menjadi penggerak ekonomi di daerahnya melalui zakat dan sedekah, sehingga memperkuat posisi mereka sebagai pemimpin informal dalam masyarakat.

Di era modern, dengan masa tunggu keberangkatan haji yang bisa mencapai puluhan tahun di Indonesia, keberhasilan seseorang menunaikan ibadah ini dipandang sebagai sebuah pencapaian besar. Gelar haji pun akhirnya bertransformasi menjadi identitas budaya yang menunjukkan keteguhan niat dan kesabaran dalam menjalankan rukun Islam.