BISNISMARKET.COM - Fenomena regresi perilaku pada anak usia balita merupakan isu yang cukup umum dihadapi oleh banyak keluarga di Indonesia. Kondisi ini seringkali muncul bersamaan dengan adanya perubahan signifikan dalam lingkungan rumah tangga.
Salah satu pemicu utama munculnya perubahan sikap mendadak pada si kecil adalah penambahan anggota keluarga baru. Perubahan besar ini menimbulkan dinamika emosional yang sulit diproses oleh anak, terutama si sulung.
Anak usia balita seringkali belum memiliki kemampuan verbal yang memadai untuk mengekspresikan rasa cemburu atau ketidaknyamanan yang mereka rasakan. Akibatnya, perasaan tersebut termanifestasi melalui perilaku yang mundur ke tahap sebelumnya.
Dilansir dari Medcom, kurangnya durasi tidur dan terbaginya fokus perhatian orang tua diidentifikasi sebagai faktor krusial penyebab kemunduran sikap ini. Kebutuhan dasar anak yang tidak terpenuhi dapat memicu respons regresif.
Regresi perilaku ini menunjukkan bahwa balita sedang berusaha beradaptasi dengan peran barunya di tengah perubahan struktur keluarga. Mekanisme penyesuaian diri ini seringkali menyerupai kebiasaan yang pernah mereka tunjukkan saat masih bayi.
Gejala kemunduran perilaku ini dapat terlihat dari kembalinya kebiasaan yang seharusnya sudah teratasi. Beberapa indikator yang sering diamati adalah anak tiba-tiba menuntut untuk kembali menggunakan popok.
Selain itu, keinginan untuk kembali minum susu menggunakan botol susu juga menjadi salah satu tanda regresi yang sering muncul pada anak. Hal ini menandakan adanya kebutuhan akan kenyamanan masa lampau.
"Fenomena regresi perilaku pada anak usia balita sering terjadi, terutama ketika ada perubahan signifikan dalam lingkungan keluarga, seperti penambahan anggota baru," demikian salah satu poin pembahasan dalam ulasan tersebut.
"Perubahan ini dapat memicu dinamika emosional yang kompleks pada anak sulung yang belum mampu mengekspresikan perasaannya secara verbal," lanjut ulasan tersebut.