JAKARTA, BisnisMarket.com - Seolah tak ada habisnya tantangan, nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah di awal pekan ini. Di tengah ketidakpastian global yang kian memanas, pergerakan mata uang Indonesia tak luput dari bayang-bayang kenaikan harga energi dan ketegangan politik yang meledak di jalur perdagangan dunia. Bagaimana nasib rupiah selanjutnya?

Tekanan Sejak Awal Perdagangan

Pembukaan sesi perdagangan memperlihatkan rupiah sempat bertahan di level Rp18.109 per dolar AS di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Namun, tak butuh waktu lama untuk berubah arah. “Rupiah berubah tipis dan melemah 0,09 persen menjadi Rp18.126/US$ pada pukul 08.10 WIB,” dikutip dari laporan Bloomberg Technoz (13/7).

Pelemahan ini bukan terjadi sendirian. Indeks dolar AS bertahan kuat di angka 101,12, sehingga membuat hampir seluruh mata uang kawasan Asia ikut tertekan. Mulai dari Won Korea Selatan, Baht Thailand, Yen Jepang, hingga Ringgit Malaysia, semuanya melanjutkan tren melemah secara bersamaan.

Pemicu Utama: Konflik dan Harga Minyak Melonjak

Salah satu penyebab paling terasa adalah kembali memanasnya situasi di Selat Hormuz. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu saling serang membuat pasar waspada. Dampaknya langsung terasa pada harga minyak dunia. “Harga minyak Brent kembali melonjak 3,99 persen ke level US$79,04 per barel pada pukul 07.45 WIB,” tulis laporan tersebut.

Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia sangat sensitif terhadap kenaikan harga energi. Biaya impor yang membengkak berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan, yang pada akhirnya membebani kinerja rupiah.

Ekspektasi Suku Bunga dan Pergerakan Obligasi

Tekanan lain datang dari arah kebijakan moneter AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik 3 basis poin menjadi 4,23 persen, yaitu level tertinggi sejak Februari 2025. Hal ini membuat aset berdenominasi dolar terlihat lebih menarik bagi investor global.