BISNISMARKET.COM - Pemerintah Republik Indonesia menunjukkan optimisme tinggi dalam upaya perluasan swasembada pangan strategis di Tanah Air. Langkah ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan pencapaian swasembada pada komoditas beras yang telah lebih dulu diamankan.

Saat ini, fokus utama telah dialihkan kepada komoditas kedelai, yang mana produksinya di dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor secara signifikan dalam waktu dekat.

Selain peningkatan produksi, pemerintah juga tengah gencar memperkuat seluruh rantai pasok pangan nasional. Penguatan ini mencakup aspek distribusi pupuk yang krusial bagi petani di seluruh wilayah Indonesia.

Kondisi geopolitik global turut memberikan tantangan baru dalam upaya pengamanan pangan nasional. Gangguan pada rantai pasok bahan baku penting seperti sulfur, yang terpengaruh oleh konflik perang, menjadi perhatian serius pemerintah.

Menanggapi tantangan tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital & Hubungan Antarlembaga Kemenko Pangan, Bara Krishna Hasibuan, menyampaikan pandangan optimis mengenai arah kebijakan pangan ke depan.

"Pemerintah memiliki optimisme dalam mendorong perluasan swasembada pangan nasional," ujar Bara Krishna Hasibuan.

Lebih lanjut, mengenai komoditas kedelai, ia menekankan urgensi peningkatan produksi domestik yang selama ini masih mengandalkan pasokan dari impor. Hal ini disampaikan dalam konteks upaya pengamanan ketersediaan pangan strategis, kata Bara Krishna Hasibuan.

Pemerintah juga melakukan antisipasi strategis terkait potensi dampak perubahan cuaca dan iklim yang dapat mengganggu stabilitas produksi pangan lokal. Koordinasi intensif terus dilakukan untuk memitigasi risiko tersebut, seperti yang diungkapkan oleh narasumber.

Semua perkembangan dan strategi terkini ini dibahas secara mendalam dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia pada hari Senin, 30 Maret 2026, bersama Andi Shalini dan Bara Krishna Hasibuan.