PANDEGLANG, Bisnismarket.com – Menjelang masuknya bulan suci Ramadan, gairah ekonomi kreatif di sektor pangan mulai menunjukkan tren positif.
Salah satu komoditas yang paling menonjol adalah kolang-kaling. Buah dari pohon aren ini kembali menjadi primadona bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seiring dengan melonjaknya permintaan pasar untuk kebutuhan menu takjil.
Berdasarkan pantauan di sejumlah sentra produksi, para perajin kolang-kaling mulai meningkatkan kapasitas produksi mereka sejak dua minggu sebelum puasa. Jika pada hari biasa seorang pedagang hanya mampu menjual 10–20 kilogram per hari, memasuki momentum Ramadan, angka tersebut diprediksi akan melonjak hingga 300%.
Kolang-kaling adalah menu wajib. Tanpanya, kolak atau es campur terasa kurang lengkap. Ini yang membuat pesanan dari pedagang pasar maupun katering rumahan mulai menumpuk.
Tahun ini, wajah UMKM kolang-kaling tampak berbeda. Para pelaku usaha tidak lagi hanya menjual bahan mentah dalam karung, melainkan mulai merambah ke produk turunan dengan nilai jual lebih tinggi. Beberapa inovasi yang mulai menjamur di pasar digital antara lain:
Varian Rasa Alami: Penggunaan ekstrak buah asli seperti naga, pandan, dan jeruk untuk memberi warna tanpa bahan kimia.
Kemasan Modern: Penggunaan standing pouch vakum yang membuat produk lebih tahan lama dan mudah dikirim ke luar kota.
Siap Saji: Produk manisan siap santap yang menyasar para pekerja kantoran yang tidak memiliki banyak waktu untuk memasak.
Di tengah tingginya permintaan, konsumen diimbau untuk tetap teliti sebelum membeli. Ahli pangan menyarankan beberapa tips untuk mengenali kolang-kaling yang segar dan tanpa bahan pengawet: