Jakarta - Pernahkah Anda bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas nasib jutaan UMKM di Indonesia? Di balik gemerlap pertumbuhan ekonomi, ada jeritan pilu dari "si kecil" yang seringkali terlupakan. Apakah mereka benar-benar dirawat, atau justru diterlantarkan? Bersiaplah, karena Anda akan terkejut dengan fakta-fakta yang akan terungkap!

Kasus Mama Khas Banjar: Tragedi yang Memilukan

Ingatkah Anda dengan kasus Mama Khas Banjar? Seorang pemilik toko oleh-oleh yang harus duduk di kursi terdakwa hanya karena masalah label kedaluwarsa. "Duduk di kursi terdakwa pengadilan tidak pernah terbayangkan oleh Firly Norachim," tulis Kompas dilihat pada (13/2). Ironisnya, ketidaktahuan yang seharusnya bisa dimaafkan, justru berujung pada ancaman hukuman penjara dan denda miliaran rupiah!

Aturan Tumpang Tindih, UMKM Jadi Korban

Ada apa dengan negara ini? Aturan yang seharusnya melindungi, justru menjerat UMKM. "Ada disharmoni. Aturan bertabrakan dengan aturan lain," tulis A Raymond Tarigan dari Kementerian UMKM dilansir dari Kompas dilihat pada (13/2). Undang-undang yang satu memberikan sanksi pidana, sementara undang-undang lain hanya sanksi administratif untuk pelanggaran yang sama. Lalu, siapa yang salah?

Negara Abai? Koordinasi yang Amburadul

Ternyata, masalahnya lebih dalam dari sekadar aturan yang tumpang tindih. Menurut Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM periode 2019-2024, pengoordinasian kebijakan pemberdayaan UMKM adalah masalah krusial. "Urusan UMKM merupakan lintas sektoral—terdapat 22 kementerian serta 44 lembaga tingkat pusat, juga pemerintah daerah, yang mengurusi UMKM. Hal itu membuat pelaksanaan kebijakan menjadi overlapping," ujarnya.

Sub Judul: 22 Kementerian, 44 Lembaga, Tapi UMKM Tetap Sengsara!

Bayangkan, puluhan lembaga pemerintah sibuk mengurusi UMKM, tapi hasilnya? Nol besar! Program pemberdayaan jalan sendiri-sendiri, tanpa koordinasi yang jelas. "Setiap kementerian/lembaga/pemerintah daerah memiliki program terkait pemberdayaan UMKM sendiri dan tidak terkoordinasi," lanjut Teten Masduki. Pantas saja UMKM merasa seperti anak ayam kehilangan induk!