JAKARTA, BisnisMarket.com - Di balik angka yang tampak mengesankan, yaitu lebih dari 65 juta unit usaha yang menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), terdapat sebuah kenyataan pahit yang jarang diungkap secara jujur. Potensi besar UMKM Indonesia untuk menjadi kekuatan utama di pasar ekspor masih jauh dari harapan. Mereka terjebak dalam lingkaran setan yang sulit ditembus: rendahnya daya saing, akses pembiayaan yang terbatas, dan ketidakmampuan memenuhi standar internasional.
Dalam sebuah laporan terbaru dilansir dari Kompas.com (13/3), disebutkan bahwa kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional stagnan di kisaran 14–15 persen hingga 2024. Padahal, negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, bahkan Bangladesh, mampu mendorong UMKM mereka masuk ke rantai pasok global secara masif. Kenapa Indonesia, yang memiliki potensi besar, justru masih berkutat di pasar dalam negeri yang jenuh dan kompetitif?
Mengapa UMKM Gagal Menembus Pasar Global?
Salah satu faktor utama adalah ketidakmampuan UMKM untuk meningkatkan kualitas produk dan memenuhi standar internasional. Data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 65 juta UMKM, hanya sekitar 4 persen yang benar-benar siap untuk menembus pasar ekspor secara administratif, finansial, dan kualitas produk. Mayoritas UMKM masih beroperasi di skala subsisten, tanpa standar produksi yang konsisten, tanpa sertifikasi internasional, dan minim pemahaman pasar global.
Kebijakan pemerintah selama ini pun dinilai belum mampu membangun ekosistem ekspor yang terintegrasi. Program pembiayaan murah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan insentif fiskal memang membantu, tetapi tidak cukup untuk memperkuat rantai pasok, logistik, dan market intelligence yang diperlukan agar UMKM mampu bersaing di pasar internasional. Tanpa adanya kolaborasi yang efektif antara pelaku usaha besar dan UMKM, peluang untuk meningkatkan volume ekspor akan terus tertutup.
Potensi yang Terbuang dan Peluang yang Terabaikan
Menurut laporan WTO dan studi dari International Trade Centre (ITC), keberhasilan UMKM masuk ke pasar global bergantung pada pengurangan biaya perdagangan, peningkatan kapasitas digital, dan standar mutu produk yang tinggi. Sayangnya, kebijakan yang ada masih bersifat sektoral dan fragmentaris. Padahal, keberhasilan UMKM dalam rantai nilai global sangat bergantung pada integrasi mereka dalam jaringan produksi internasional.
Selain itu, faktor inovasi dan riset juga menjadi kendala utama. Indonesia masih berada di peringkat 54 dalam Global Innovation Index 2024, tertinggal dari negara pesaing utama yang mampu berinovasi dan memperkuat diferensiasi produk mereka. Keunggulan harga murah tidak cukup lagi untuk bersaing, karena pasar internasional semakin menuntut kualitas, keberlanjutan, dan inovasi.

Ilustrasi UMKM yang memproduksi kerajinan tangan. (SHUTTERSTOCK/BASTIAN AS Via Kompas.Com)
Transformasi, Kunci Menuju Ekspor Berkelanjutan