BISNIS MARKET - Olahraga membawa segudang manfaat, mulai dari kesehatan fisik hingga ketahanan mental. Namun, di balik manfaatnya, ada sinyal bahaya yang kerap diabaikan ketika aktivitas dilakukan terlalu berat atau melampaui kemampuan tubuh.

Peserta olahraga ekstrem, seperti lari trail, harus lebih peka terhadap tanda-tanda ini guna menghindari risiko serius, termasuk jantung kolaps.

Spesialis kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, SpKO, menekankan pentingnya mendengarkan tubuh sendiri. Jika muncul gejala tidak biasa, segera perlambat atau hentikan aktivitas.

"Feeling subjective juga penting. Kayak udah mulai ngerasa kok ngap banget ya, slow down pelan-pelan, atau mulai ngerasa nggak nyaman di dada, atau mulai kliyengan, atau mulai ngerasa kayak mau pingsan dan sebagainya, itu bisa jadi alarm gitu, udah jerit nih, udah dong guys, slow down, slow down gitu," jelasnya.

Smartwatch: Alat Bantu, Bukan Patokan Utama

Di era digital, banyak pelari mengandalkan smartwatch untuk memantau detak jantung (heart rate) selama beraktivitas. Alat ini memang berguna untuk memberikan gambaran objektif tentang kondisi tubuh.

Namun, dr. Andhika menegaskan bahwa perangkat teknologi tidak boleh dijadikan patokan utama. Data dari smartwatch harus dipadukan dengan kesadaran akan kondisi subjektif tubuh.

Bagaimanapun canggihnya alat, ia tidak dapat merasakan secara langsung sensasi nyeri dada, pusing, atau perasaan tidak nyaman yang hanya bisa dideteksi oleh diri sendiri. Kombinasi antara data teknologi dan kewaspadaan internal adalah kunci berolahraga dengan aman.

Jangan Paksakan Diri Saat Kondisi Tidak Fit