BISNIS MARKET – Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali menjadi sorotan sebagai instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Di tengah upaya memperkuat sektor riil, KUR BRI hadir sebagai solusi permodalan bagi jutaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ingin melakukan ekspansi bisnis di tahun ini.

Pemerintah melalui sinergi dengan BRI terus berkomitmen menyediakan akses pembiayaan yang terjangkau. Hal ini dibuktikan dengan konsistensi suku bunga rendah serta proses pengajuan yang semakin dipermudah melalui digitalisasi layanan.

Bagi banyak pelaku UMKM, "tembok" terbesar dalam berkembang adalah terbatasnya modal kerja. Menanggapi hal tersebut, KUR BRI 2026 menawarkan berbagai kategori plafon yang dapat disesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan usaha:

Sektor Mikro & Super Mikro: Menjadi primadona bagi pedagang pasar, pengusaha kuliner rumahan, dan jasa skala kecil dengan plafon mulai dari Rp10 juta hingga Rp100 juta.

Sektor Kecil: Ditujukan bagi usaha yang telah stabil dan membutuhkan suntikan dana besar hingga Rp500 juta untuk pengadaan alat produksi atau pembukaan cabang baru.

Berbeda dengan pinjaman komersial biasa, KUR mendapatkan subsidi bunga dari pemerintah. Saat ini, suku bunga yang dibebankan kepada debitur tetap kompetitif di angka 6% efektif per tahun untuk pengajuan pertama kali. Rendahnya beban bunga ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk fokus pada peningkatan kualitas produk dan jangkauan pasar.

BRI kini semakin mempermudah proses administrasi. Selain datang langsung ke kantor unit terdekat, calon debitur juga didorong untuk memanfaatkan platform digital guna mempercepat verifikasi data.

Kunci utama dari pengajuan KUR yang sukses adalah legalitas usaha yang jelas (seperti NIB) dan rekam jejak kredit yang bersih di SLIK OJK.