TEHERAN, BisnisMarket.com – Stabilitas semu yang sempat dirasakan di kawasan Timur Tengah kini berada di ambang kehancuran. Per April 2026, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kembali mencapai titik nadir setelah kedua belah pihak saling mengancam akan membatalkan komitmen gencatan senjata yang baru saja disepakati melalui mediasi internasional.
Kedua negara adidaya regional dan global tersebut menunjuk satu nama sebagai penyebab utama kegagalan proses damai ini: Israel.
Menteri Luar Negeri Iran dalam pernyataan resminya menyebut Israel sebagai "biang kerok" yang secara sengaja melakukan serangkaian sabotase militer di wilayah perbatasan dan fasilitas strategis. Iran menilai tindakan tersebut merupakan upaya sistematis Tel Aviv untuk memancing reaksi keras Teheran agar Amerika Serikat kembali terseret ke dalam konflik terbuka.
"Kesabaran strategis kami ada batasnya. Jika Washington tidak mampu mengendalikan sekutunya (Israel), maka kami tidak melihat alasan untuk terus mempertahankan kesepakatan gencatan senjata ini," tegas juru bicara Dewan Keamanan Nasional Iran.
Di sisi lain, Gedung Putih merespons dengan nada yang tak kalah keras. Amerika Serikat memperingatkan bahwa setiap serangan balasan dari kelompok pro-Iran terhadap aset atau sekutu AS akan dianggap sebagai pembatalan otomatis kesepakatan damai.
Meskipun intelijen AS mengakui adanya aktivitas militer Israel yang tidak terkoordinasi, Washington tetap menyalahkan Iran atas mobilisasi proyektil jarak jauh di sepanjang wilayah konflik. Pentagon menyatakan telah menempatkan pasukan dalam status siaga tertinggi di kawasan Teluk.
Mengapa Gencatan Senjata Terancam Gagal?
Analis geopolitik melihat ada tiga faktor utama yang memicu rapuhnya kesepakatan ini di tahun 2026:
Aksi Unilateral Israel: Ketidakpuasan Israel terhadap poin-poin kesepakatan yang dinilai terlalu menguntungkan pengaruh nuklir Iran.