TEHERAN, BisnisMarket.com – Dunia internasional kini tertuju pada Teheran menyusul wafatnya Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada akhir Februari 2026 akibat serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat.
Di tengah masa berkabung nasional dan proses pemilihan pemimpin baru, Israel secara resmi mengeluarkan ancaman yang meningkatkan tensi ke titik tertinggi: setiap suksesor yang terpilih akan menjadi target militer langsung.
Perdana Menteri Israel dalam pidatonya pagi ini menegaskan bahwa strategi militer mereka kini bergeser dari sekadar pertahanan menjadi "dekapitasi kepemimpinan" secara berkelanjutan.
"Kami tidak akan membiarkan rezim ini melakukan regenerasi. Siapa pun yang melangkah maju untuk memimpin agenda penghancuran Israel harus siap menghadapi nasib yang sama dengan pendahulunya," tegas juru bicara militer Israel dalam konferensi pers di Tel Aviv.
Pernyataan ini muncul saat Majelis Ahli (Assembly of Experts) Iran dilaporkan sedang mengadakan pertemuan darurat dalam bunker keamanan tinggi untuk menentukan apakah kepemimpinan akan jatuh ke tangan individu atau Dewan Kepemimpinan Kolektif.
Kandidat dalam Bayang-Bayang Rudal
Intelijen Barat melaporkan bahwa beberapa kandidat kuat kini berada dalam dilema antara pengabdian ideologis dan risiko keamanan pribadi yang ekstrem:
Mojtaba Khamenei: Putra mendiang Pemimpin Agung yang didukung penuh oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Israel secara spesifik menyebut namanya sebagai figur yang paling diwaspadai karena pengaruhnya terhadap jaringan proksi regional.
Alireza Arafi: Tokoh ulama yang saat ini menjabat dalam dewan transisi. Ia dipandang sebagai figur teknokratis, namun Israel tetap menganggapnya sebagai bagian dari mesin perang Teheran.