BISNISMARKET.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada hari Selasa, 16 Juni 2026. Kejadian alam ini menimbulkan dampak signifikan terhadap berbagai infrastruktur vital, termasuk jaringan telekomunikasi di daerah terdampak.
Pasca guncangan kuat tersebut, otoritas terkait segera mengaktifkan protokol tanggap darurat. Fokus utama penanganan adalah memulihkan layanan komunikasi demi mendukung aktivitas masyarakat yang terkena dampak bencana.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjadi garda terdepan dalam melakukan pendataan dan mitigasi kerusakan infrastruktur komunikasi. Mereka mencatat adanya sejumlah Base Transceiver Station (BTS) yang mengalami gangguan fungsi.
Secara spesifik, tercatat sebanyak 29 BTS mengalami kendala operasional akibat getaran gempa yang cukup intens tersebut. Jumlah ini merepresentasikan sebagian kecil dari keseluruhan infrastruktur telekomunikasi yang tersebar di provinsi tersebut.
Meskipun persentasenya tergolong kecil, Kementerian Komunikasi dan Digital tetap memberikan perhatian serius terhadap gangguan pada 29 BTS tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan konektivitas warga dapat segera kembali normal dan terjaga.
Upaya pemulihan jaringan telah berjalan secara bertahap sejak gempa terjadi. Pihak berwenang berkomitmen untuk memastikan bahwa layanan dasar komunikasi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan.
"Sebanyak 29 base transceiver station (BTS) mengalami gangguan akibat guncangan kuat tersebut," demikian Kominfo mencatat perkembangan awal kerusakan infrastruktur. Pernyataan ini menggarisbawahi skala kerusakan yang ditangani oleh kementerian.
Lebih lanjut, Kominfo menegaskan bahwa meskipun terjadi kerusakan, penanganan dilakukan dengan prioritas tinggi. "Angka ini merupakan persentase kecil dari total infrastruktur yang ada, namun tetap memerlukan perhatian serius untuk memastikan konektivitas tetap terjaga," kata perwakilan Kementerian.
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, respons cepat dari otoritas terkait menjadi kunci keberhasilan dalam memitigasi dampak jangka panjang dari terputusnya layanan komunikasi pasca bencana alam ini.