JAKARTA, BisnisMarket.com – Pergerakan saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) saat ini menjadi sorotan utama pelaku pasar modal. Dalam hitungan bulan, nilainya melesat luar biasa, seolah tak terbendung, didorong satu isu besar yang sudah bergema sejak April lalu: rencana penggabungan usaha dengan raksasa keuangan Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG). Per hari Senin (11/5/2026), harga sahamnya melompat lagi 5,32 persen atau 230 poin ke level Rp4.750 per lembar. Angka ini menambah catatan mengagumkan: akumulasi kenaikan sudah menembus 97 persen sejak awal tahun! Dahulu diperdagangkan sekitar Rp2.600, kini nilainya hampir dua kali lipat.

Lonjakan tajam ini tentu membawa dampak besar: penilaian harga atau valuasi saham BDMN kini menjadi perdebatan panas. Dilansir dari Bloomberg Technoz (11/5), jika kita melihat indikator utama sektor perbankan yaitu Price to Book Value (PBV), ada dua sisi fakta yang saling bertolak belakang. Data menunjukkan BDMN memiliki PBV sebesar 0,82 kali. Angka ini sebenarnya masih terlihat menarik, sebab rata-rata bank besar kategori BUKU 4 berada di angka 1,1 kali. Artinya, dibandingkan standar bank besar nasional, BDMN masih diperdagangkan di bawah nilai bukunya, masih terlihat murah.

Namun, cerita berubah total jika kita bandingkan langsung dengan rekan-rekan sejawatnya di kelas yang sama. "Jika disandingkan dengan head to head di kelasnya seperti BBTN, BTPN dan lainnya, BDMN jauh lebih mahal," tulis laporan tersebut dengan tegas. Berikut data perbandingannya:

  • BBTN: 0,5 kali
  • BTPN: 0,5 kali
  • PNBN: 0,5 kali
  • NISP: 0,7 kali
  • CIMB: 0,7 kali

Terlihat jelas, BDMN dinilai pasar jauh lebih tinggi, bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan BBTN, BTPN atau PNBN. Mengapa bisa demikian? Jawabannya ada pada sentimen merger yang sangat kuat ini. Dalam teori ekonomi dan pasar modal, harga saham tidak hanya mencerminkan kinerja saat ini, tapi juga ekspektasi masa depan. Pasar menilai, jika merger ini resmi terlaksana, sinergi dengan MUFG akan membuka akses modal lebih besar, jaringan lebih luas, dan efisiensi operasional yang akan mendongkrak laba jauh lebih tinggi ke depan. Hal ini membuat investor rela membayar harga lebih mahal hari ini, demi keuntungan besar di masa mendatang.

Namun, para analis tetap mengingatkan: kenaikan sebesar 97 persen dalam waktu singkat mengandung risiko tinggi. Menurut pandangan ahli keuangan, PBV di bawah 1 memang umum dianggap wajar atau murah, tapi selisih yang sangat lebar dibandingkan pesaing langsung mengindikasikan bahwa harga saat ini sudah memasukkan seluruh harapan positif merger tersebut. Jika pengumuman sore ini nanti tidak sesuai ekspektasi atau ada penundaan, potensi koreksi harga sangat besar. Sebaliknya, jika diumumkan resmi dan lengkap dengan skema sinergi yang jelas, lonjakan harga bisa berlanjut.

Kinerja fundamental Danamon sendiri sebenarnya cukup kokoh. Laba bersih kuartal I-2026 tumbuh 35 persen, modal sangat kuat, dan kualitas aset terjaga baik – faktor ini menjadi landasan agar kenaikan harga tidak sekadar gejala spekulasi belaka. Namun, dengan valuasi yang sudah berada di level tertinggi dibandingkan teman sejawatnya, tantangan terbesar ada di tangan manajemen: bagaimana mewujudkan nilai tambah yang sepadan dengan harga yang sudah dibayarkan pasar saat ini.

Semua mata kini tertuju pada pengumuman yang dikabarkan akan disampaikan sore ini. Apakah merger resmi disepakati? Bagaimana struktur kepemilikan dan arah bisnis ke depan? Jawaban itu akan menjadi penentu: apakah BDMN masih layak dibeli, atau justru sudah terlalu mahal untuk dikejar. Satu hal pasti: perjalanan saham Danamon belum berakhir, babak baru sejarahnya baru saja akan dimulai. (*)