JAKARTA, BisnisMarket.com
- Sebuah perubahan besar tengah melanda industri transportasi daring di Tanah
Air. Mulai tanggal 1 Juli 2026 mendatang, pemerintah resmi memangkas batas
maksimal komisi yang boleh diambil oleh aplikasi penyedia layanan menjadi hanya
8 persen, turun tajam dari angka sebelumnya yang mencapai 20 persen.
Dilansir dari Bloomberg Technoz (27/6), kebijakan ini
dipandang sebagai titik balik yang mengubah pola pencarian keuntungan bagi
perusahaan platform digital yang selama ini sangat bergantung pada layanan
angkutan penumpang. Bagi GoTo selaku induk Gojek dan Grab, tantangannya bukan
sekadar soal berkurangnya potongan pendapatan, melainkan bagaimana menjaga laju
pertumbuhan bisnis saat salah satu sumber pemasukan utama kini dibatasi aturan.
Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economic and
Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai situasi ini memaksa perusahaan
mencari celah baru. “Platform masih bisa untuk menaikkan jenis biaya lainnya
yang bisa ditanggung oleh konsumen,” ujarnya. Namun ia juga mengingatkan bahwa
langkah ini memiliki risiko tersendiri. Sebagian besar masyarakat Indonesia
dikenal sangat peka terhadap perubahan harga. Jika biaya layanan dinaikkan,
tidak menutup kemungkinan permintaan akan menurun dan berimbas pada volume transaksi
secara keseluruhan.
Pergeseran Fokus ke Bisnis Lain
Menyikapi hal ini, data keuangan terbaru justru
menunjukkan bahwa pergeseran arah usaha sebenarnya sudah mulai terjadi. Laporan
kinerja GoTo pada kuartal I-2026 memperlihatkan bahwa sumbangan terbesar kini
tak lagi datang dari layanan transportasi.
Segmen layanan sesuai permintaan mencatat nilai
transaksi bruto sebesar Rp16,3 triliun. Dari jumlah itu, bisnis pengiriman
makanan dan logistik menyumbang Rp10,6 triliun, tumbuh 8 persen dibanding tahun
sebelumnya. Sementara itu, segmen transportasi hanya mencapai Rp5,7 triliun dan
justru mengalami penurunan sebesar 3 persen. Dari sisi pendapatan, layanan
pengiriman menghasilkan Rp2,54 triliun, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan
Rp815 miliar dari sektor transportasi. Bahkan layanan keuangan digital turut
melesat naik 58 persen menjadi Rp1,9 triliun.
Kondisi serupa juga terjadi pada Grab. Pada periode
yang sama, pendapatan dari layanan pengiriman menyentuh angka 510 juta dolar AS
atau naik 23 persen, sedangkan transportasi tumbuh lebih lambat di angka 19
persen menjadi 337 juta dolar AS.
Analis Senior dari Indonesia Strategic and Economic
Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menyebut langkah ini sangat logis.
“Secara ekonomi, langkah tersebut sangat memungkinkan, terutama jika segmen
lain belum terkena regulasi yang sama ketatnya,” katanya. Meski demikian, ia
mengingatkan bahwa persaingan di sektor pengiriman dan keuangan juga sangat
ketat, sehingga keberhasilan tetap bergantung pada efisiensi dan keunikan
layanan.
Beragam Strategi Menjaga Keberlangsungan