BISNIS MARKET - Tragedi keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mengguncang Gunung Kidul, Yogyakarta, dengan 695 siswa dan 10 guru dari SMKN 1 Saptosari serta SMPN 1 Saptosari mengalami gejala muntah, sakit perut, dan diare setelah menyantap menu Selasa (28/10/2025). Menu berupa nasi, gulai ayam, tahu goreng, dan potongan melon ini diduga terkontaminasi, memicu kekhawatiran nasional terhadap keamanan program gizi anak sekolah di seluruh Indonesia.
Badan Gizi Nasional (BGN) langsung bertindak tegas dengan menghentikan sementara operasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Planjan, Saptosari, untuk cegah penyebaran risiko lebih lanjut. Langkah darurat ini bagian dari komitmen pemerintah memastikan standar higienitas dapur MBG, di mana Dinas Kesehatan setempat telah ambil sampel makanan, muntahan, serta feses korban untuk uji laboratorium mendalam.
"Dapur MBG itu kini telah dihentikan sementara operasinya oleh Badan Gizi Nasional (BGN)," dikutip dari rilis resmi BGN, Kamis (30/10/2025). Penghentian ini memungkinkan investigasi cepat untuk identifikasi akar masalah, termasuk potensi kontaminasi air atau bahan baku yang sering jadi celah keamanan pangan di program skala besar seperti MBG.
Bupati Gunung Kidul Endah Subekti Kuntariningsih mengonfirmasi total korban mencapai 695 orang, dengan 476 siswa plus 10 guru dari SMKN 1 Saptosari dan 186 dari SMPN 1 Saptosari. "Hari ini sudah kita hitung 695 anak terdampak diduga keracunan MBG," ujar Endah saat ditemui di RSUD Saptosari, Rabu (29/10/2025), menekankan urgensi penanganan medis segera untuk pulihkan kondisi anak-anak tersebut.
Inspeksi mendadak Bupati Endah ke dapur SPPG ungkap indikasi kuat bakteri E Coli dari air keran yang digunakan memasak, berpotensi sebabkan diare akut pada anak usia sekolah. "Dari hasil pemeriksaan awal, air di dapur masih mengandung bakteri E.coli, yang berpotensi menyebabkan diare pada anak-anak," kata Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul Ismono, menyoroti kelalaian pengolahan air sebagai faktor utama keracunan massal ini.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X ikut angkat suara, mempertanyakan kompetensi pengawas dapur MBG yang didominasi pria tanpa pengalaman praktis higienitas. "Kalau yang ngawasi bapak-bapak enggak pernah ke dapur ya ora ngerti (tidak tahu). Biarpun dokter urung karuan ning dapur (belum tentu ke dapur)," tegas Sultan pada Kamis (30/10/2025), dorong rekrutmen pengawas berbasis gender dan keahlian untuk hindari insiden serupa di masa depan.
Pemkab Gunung Kidul siapkan dana darurat Rp100 juta untuk tanggung biaya pengobatan korban, karena keracunan tak dicover BPJS Kesehatan. "Biaya rumah sakit seperti yang kami diskusikan dengan kepala rumah sakit dan kepala dinas (kesehatan) karena keracunan bukan kategori penyakit, maka tidak dicover BPJS," jelas Endah, pastikan akses medis gratis agar korban cepat pulih dan kembali belajar tanpa beban finansial.
Kasus ini kembali menjadi sorotan publik, terlebih setelah BGN menjanjikan evaluasi total dapur penyedia di DIY dan daerah lain untuk tingkatkan standar kebersihan serta pelatihan. Masyarakat Gunung Kidul berduka atas insiden yang picu trauma anak ini.