BISNISMARKET.COM - Tragedi kembali menyelimuti misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon selatan, menyusul konfirmasi cedera yang menimpa tiga penjaga perdamaian asal Indonesia. Insiden terbaru ini terjadi di tengah intensitas serangan yang terus menggempur wilayah tersebut oleh pihak Israel.
Peristiwa nahas ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah tiga personel Garuda lainnya dilaporkan meninggal dunia dalam serangkaian kejadian yang berbeda di zona konflik yang sama. Kondisi ini menambah kekhawatiran akan keselamatan kontingen Indonesia di sana.
Menurut keterangan resmi pejabat PBB, tiga personel penjaga perdamaian yang terluka tersebut merupakan Warga Negara Indonesia yang menjadi korban ledakan pada hari Jumat, 3 Maret 2026. Luka yang diderita memerlukan penanganan medis segera.
Misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) segera mengeluarkan pernyataan mengenai lokasi pasti insiden tersebut. Ledakan dilaporkan terjadi di dalam fasilitas PBB yang berdekatan dengan area El Adeisse pada Jumat sore waktu setempat.
Dua dari tiga prajurit yang terluka dilaporkan mengalami kondisi yang cukup serius dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Ketiganya langsung dievakuasi setelah ledakan mengguncang fasilitas tersebut.
Pusat Informasi PBB di Jakarta menyatakan bahwa sumber pasti dari ledakan tersebut masih dalam tahap investigasi. "Asal-usul ledakan belum diketahui," ujar perwakilan Pusat Informasi PBB di Jakarta, sembari mengonfirmasi identitas korban yang terluka adalah warga negara Indonesia.
Insiden Jumat ini melanjutkan rentetan peristiwa pahit, mengingat hanya beberapa hari sebelumnya, seorang penjaga perdamaian Indonesia telah gugur akibat proyektil yang meledak pada 29 Maret di Lebanon selatan. Wilayah ini telah menjadi garis depan konflik antara Israel dan Hizbullah sejak 2 Maret.
Sebuah sumber keamanan PBB yang meminta namanya dirahasiakan sempat memberikan petunjuk mengenai penyebab ledakan sebelumnya kepada AFP pada hari Selasa. "Tembakan dari tank Israel menjadi penyebab ledakan tersebut," kata sumber keamanan PBB tersebut kepada AFP secara anonim pada Selasa.
Keesokan harinya setelah insiden jatuhnya korban pertama, dua penjaga perdamaian Indonesia lainnya juga dilaporkan tewas ketika konvoi logistik yang mereka kawal dihantam ledakan di Lebanon selatan. Hal ini menunjukkan tingkat bahaya yang sangat tinggi di area operasi.