BISNISMARKET.COM - Para pelaku usaha di sektor plastik yang beroperasi di Kota Bekasi, Jawa Barat, kini menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan akibat lonjakan harga bahan baku di pasaran. Kondisi ini menimbulkan keresahan mendalam di kalangan pedagang kecil hingga menengah.

Pemicu utama dari kenaikan harga yang tiba-tiba ini disebut-sebut berkaitan erat dengan eskalasi konflik atau perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Konflik geopolitik tersebut diketahui memiliki dampak berantai terhadap rantai pasok global.

Kenaikan harga bahan baku plastik ini secara langsung memengaruhi harga jual produk akhir di tingkat pengecer dan distributor. Para pedagang kesulitan menyerap beban biaya tambahan yang terus meningkat tanpa menyesuaikan harga jual.

Salah satu pedagang yang merasakan dampak paling keras adalah Zainuddin, yang berdagang di Pasar SBS. Ia mencatat bahwa perubahan harga ini mulai terasa secara signifikan sejak awal bulan Maret tahun ini.

Menurut pengamatan Zainuddin, dinamika perubahan harga di pasar plastik terjadi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hal ini membuat upaya antisipasi dan penyesuaian stok menjadi sangat sulit dilakukan oleh para pedagang.

Zainuddin memaparkan kronologi kenaikan tersebut, mengaitkannya dengan isu energi global. "Naiknya sejak 1 Maret. Katanya imbas perang, pasokan minyak mentah terhambat karena bahan baku plastik kan dari sana. Biji plastiknya naik," ujar Zainuddin di Pasar SBS, Bekasi Utara, Jumat (25/3/2026).

Pernyataan Zainuddin menegaskan bahwa bahan baku utama pembuatan plastik, yakni biji plastik (resin), terpengaruh langsung oleh terhambatnya pasokan minyak mentah global akibat konflik. Hal ini memicu kenaikan harga di tingkat produsen.

Kondisi ini memaksa para pedagang di Bekasi untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian stok barang. Mereka khawatir jika mengambil terlalu banyak, harga jual kembali akan mandek karena daya beli konsumen yang mungkin menurun.

Dilansir dari data pedagang, ketidakpastian harga ini menjadi tantangan operasional terbesar saat ini, melebihi isu persaingan pasar biasa. Mereka berharap situasi geopolitik segera membaik demi menstabilkan harga komoditas.