BISNISMARKET.COM - Eskalasi ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat beserta sekutunya, Israel, telah menciptakan gejolak signifikan pada harga minyak mentah global. Peristiwa ini mencapai puncaknya setelah serangan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, yang mengakibatkan penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz menimbulkan gangguan serius pada rantai pasok dan logistik, khususnya bagi perjalanan kapal tanker yang membawa Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG), serta komoditas perdagangan lainnya. Dampak langsungnya adalah lonjakan tajam harga minyak dunia yang semakin tinggi.
Indonesia, sebagai salah satu negara pengimpor minyak mentah, turut merasakan imbas dari gangguan pasokan dan kenaikan harga global ini. Kondisi ini mendorong harga minyak mentah menembus level psikologis yang cukup mengkhawatirkan pasar energi.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyampaikan bahwa kenaikan harga minyak dunia ini telah melampaui asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. "Kondisi ini membuat harga minyak menembus level USD 100 per barel jauh di atas asumsi APBN 2026 di level USD 70 per barel," ungkap Dwi Anggia.
Meskipun harga minyak mentah meroket, pemerintah melalui Kementerian ESDM memberikan jaminan penuh terkait ketersediaan energi domestik menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan selama periode Lebaran berlangsung.
Selain stabilitas harga, Dwi Anggia juga menegaskan bahwa stok dan distribusi BBM dipastikan akan tetap mencukupi kebutuhan masyarakat. Keamanan pasokan ini didukung oleh cadangan energi nasional yang melimpah, melebihi batas minimum yang ditetapkan.
"Dwi Anggia mengatakan bahwa cadangan energi RI di atas standar cadangan minum energi nasional yakni di atas 21 hari dan dipastikan sistem pengisian kembali stok dijamin tetap terjaga ditopang pasokan dalam negeri maupun impor," jelasnya. Hal ini menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menjaga ketahanan energi.
Lebih lanjut, ESDM menjelaskan bahwa meskipun Timur Tengah menjadi sumber pasokan utama, ketergantungan Indonesia terhadap minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz relatif terbatas. "ESDM juga menjelaskan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah yang melintas selat Hormuz hanya 20% sehingga sumber impor dari negara lain dari Afrika hingga Brazil dan Amerika Serikat masih bisa mencukupi," kata Dwi Anggia.
Menghadapi tantangan geopolitik ini, pemerintah telah mengambil langkah antisipatif dengan membentuk Posko Nasional Sektor ESDM. Posko ini dibentuk khusus untuk mengawal pasokan energi vital, termasuk BBM, LPG, dan listrik, guna menjamin kelancaran distribusi selama perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H.