BISNIS MARKET - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa kehadiran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini menjadi salah satu hal yang diwaspadai oleh negara lain. Menurut Airlangga, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 56 juta orang, melampaui jauh pengguna kartu kredit yang hanya sekitar 17 juta.
“QRIS sudah 56 juta penggunanya, bandingkan dengan kartu kredit yang hanya 17 juta. Makanya (QRIS) ditakuti,” ujar Airlangga, Selasa (4/11/2025) lalu. Ia menegaskan pesatnya penetrasi sistem pembayaran ini. Ia menjelaskan, perkembangan QRIS menjadi bukti keberhasilan Indonesia dalam mendorong inklusi keuangan digital.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, mengonfirmasi lonjakan signifikan ini, mencatat pengguna QRIS hingga kuartal III 2025 mencapai lebih dari 58 juta dengan 41,2 juta merchant. “Nilai transaksinya sudah lebih dari Rp 1,9 kuadriliun. Enggak cukup ya handphone kita (menghitung) kuadriliun, berapa itu nolnya,” kata Filianingsih, menggambarkan masifnya nilai transaksi, seperti dilansir Kompas.com.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh adopsi tinggi dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), di mana 93,16 persen dari seluruh merchant QRIS merupakan sektor tersebut. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyebut volume transaksi digital lewat QRIS terus meningkat seiring bertambahnya pengguna dan merchant.
Inovasi teknologi, seperti fitur QRIS Tap berbasis NFC yang diluncurkan awal 2025, turut menjadi pendorong utama pertumbuhan pengguna. Fitur ini mempermudah transaksi, terutama untuk pembayaran transportasi publik, dan dalam waktu kurang dari tiga bulan telah menembus 47,8 juta pengguna.
Gubernur BI Perry Warjiyo juga menegaskan bahwa sistem pembayaran ini telah menjadi game changer bagi ekosistem digital dan memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia. “Sejak diluncurkan enam tahun lalu, QRIS telah menjadi game changer bagi ekosistem pembayaran digital dan memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia, yang kini telah mencapai 57 juta pengguna,” ujarnya.
Saat ini, QRIS tidak hanya dipakai di dalam negeri, tetapi sudah dapat digunakan di sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Jepang, China, dan Korea Selatan. Nilai transaksi lintas negara menggunakan QRIS sudah mencapai Rp 1,66 triliun hingga Juni 2025, menunjukkan ekspansi global yang masif.
Pemerintah berkomitmen memperluas jaringan QRIS ke lebih banyak negara, termasuk menjajaki kerja sama serupa dengan Uni Emirat Arab (UEA). “Pemerintah berkomitmen memperluas jaringan QRIS ke lebih banyak negara agar transaksi antarnegara semakin efisien dan murah,” ujar Menko Airlangga.
Meskipun pertumbuhannya pesat, tantangan seperti kesenjangan infrastruktur di wilayah 3T dan rendahnya literasi digital masih perlu dibenahi. Bank Indonesia menargetkan penggunaan QRIS di China dan Korea Selatan pada akhir 2025, sebagai upaya berkelanjutan untuk memperkuat sistem pembayaran nasional yang aman dan inklusif.