BISNISMARKET.COM - Pertumbuhan luar biasa dicatat oleh Bank Indonesia (BI) dalam adopsi sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sepanjang awal tahun 2026. Data menunjukkan bahwa terjadi lonjakan signifikan dalam volume transaksi yang menggunakan metode pembayaran cepat ini.

Secara spesifik, Bank Indonesia mencatat bahwa transaksi QRIS telah melonjak hingga mencapai angka 133,20 persen. Peningkatan masif ini menggarisbawahi semakin kuatnya preferensi masyarakat Indonesia terhadap transaksi pembayaran digital yang efisien dan mudah digunakan.

Lompatan pertumbuhan ini tidak hanya menjadi indikator keberhasilan adopsi domestik, tetapi juga menjadi landasan bagi langkah strategis Bank Indonesia selanjutnya. Institusi sentral ini tengah mempersiapkan ekspansi layanan QRIS ke kancah internasional.

Rencana ekspansi tersebut menargetkan Korea Selatan sebagai salah satu pasar luar negeri pertama yang akan mengadopsi interoperabilitas QRIS. Langkah ini diharapkan dapat memfasilitasi transaksi bagi wisatawan dan pelaku ekonomi kedua negara.

Bank Indonesia secara resmi mengumumkan kesiapan peluncuran layanan QRIS di Korea Selatan pada bulan April mendatang. Target waktu ini menunjukkan urgensi BI dalam mendorong integrasi sistem pembayaran regional.

Fenomena peningkatan transaksi ini menegaskan posisi QRIS sebagai tulang punggung baru dalam ekosistem pembayaran nontunai di Indonesia. Pertumbuhan di atas seratus persen ini tentu menjadi pencapaian yang patut diapresiasi oleh seluruh pemangku kepentingan.

Pihak Bank Indonesia sendiri menyatakan optimisme mengenai dampak positif dari perluasan layanan ini ke luar negeri. Hal ini sejalan dengan upaya BI untuk meningkatkan konektivitas pembayaran lintas negara.

"Bank Indonesia catat transaksi QRIS tumbuh 133,20 persen per Februari 2026 dan siap luncurkan layanan di Korea Selatan pada April mendatang," ujar perwakilan Bank Indonesia, menegaskan fakta pertumbuhan dan rencana ekspansi tersebut.

Perluasan ke Korea Selatan ini dipandang sebagai langkah konkret dalam mewujudkan visi sistem pembayaran yang terintegrasi secara global, dimulai dari Asia. Hal ini juga membuka peluang baru bagi UMKM Indonesia untuk bertransaksi di luar negeri.