Jakarta - Siap-siap menyambut era baru kemakmuran! Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global, Indonesia justru memasang target tinggi: pertumbuhan ekonomi 5,6 persen di tahun 2026. Bukan isapan jempol belaka, pemerintah telah menyiapkan strategi jitu dengan mengandalkan tiga sektor andalan serta pemberdayaan UMKM dan Koperasi. Mampukah Indonesia mewujudkan ambisi ini?

Tiga Pilar Penopang Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026, mengungkapkan optimisme pemerintah terhadap prospek ekonomi Indonesia. "Pertumbuhan ekonomi 2026 ditargetkan tumbuh 5,4 persen hingga 5,6 persen ditopang oleh sektor prioritas pertanian, manufaktur, digital dan teknologi," ujarnya dilansir dari CNBC Indonesia (13/2).

Pertanian: Sektor ini tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan inovasi dan modernisasi, pertanian diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan nilai tambah.

Manufaktur: Transformasi industri manufaktur menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Investasi dalam teknologi dan pengembangan sumber daya manusia menjadi prioritas.

Digital dan Teknologi: Era digital membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi. Pemerintah mendorong pengembangan ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan.

UMKM dan Koperasi: Kekuatan Ekonomi Kerakyatan

Tak bisa dipungkiri, UMKM dan Koperasi memiliki peran vital dalam perekonomian Indonesia. Kontribusi mereka terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja sangat signifikan. Pemerintah menyadari potensi besar UMKM dan Koperasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Sinergi untuk Pertumbuhan:

Akses Pembiayaan: Pemerintah terus berupaya meningkatkan akses UMKM dan Koperasi terhadap pembiayaan, baik melalui perbankan maupun lembaga keuangan non-bank.