TEHERAN, BisnisMarket.com – Di tengah hiruk-pukuk ketegangan geopolitik Timur Tengah, nama Iran selalu muncul sebagai poros kekuatan yang unik.

Berbeda dengan tetangganya seperti Arab Saudi atau Mesir, Iran berdiri tegak dengan identitasnya sebagai negara mayoritas Muslim Syiah. Namun, apa sebenarnya rahasia di balik label "Syiah" yang melekat erat pada negeri Persia ini?

Syiah bukan sekadar mazhab, melainkan sebuah garis sejarah panjang yang bermuara pada kesetiaan, perjuangan, dan pencarian keadilan.

Akar Sejarah: Sebuah Perpecahan Klasik

Istilah Syiah berasal dari kata Syia'tu Ali yang berarti "Pengikut Ali". Prahara ini dimulai sejak 1.400 tahun lalu, tepat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 Masehi.

Dunia Islam kala itu terbelah menjadi dua arus besar:

Kelompok Sunni: Berpendapat bahwa pemimpin (Khalifah) harus dipilih oleh komunitas berdasarkan kemampuan.

Kelompok Syiah: Meyakini bahwa kepemimpinan adalah hak prerogatif keturunan Nabi (Ahlul Bait). Mereka percaya Nabi telah menunjuk menantunya, Ali bin Abi Thalib, sebagai penerus sah.

"Imamah": Jantung Keyakinan Syiah