BISNISMARKET.COM - Di tengah gelombang duka yang menimpa keluarganya, Sharon, ibu dari almarhum Timothy Anugerah Saputra, menjadi sosok yang menyentuh hati jutaan orang di Indonesia. Dalam podcast Denny Sumargo, ia mengaku telah bertemu beberapa pihak yang diduga melakukan bullying terhadap Timothy usai jatuh dari lantai empat gedung.
Keputusan Sharon, untuk memaafkan para pelaku perundungan Timothy Anugerah Saputra, mengundang rasa simpati dari masyarakat, netizen menyebut sosoknya memiliki hati yang luas dan memiliki jiwa yang tenang.
Latar Belakang Sosok Sharon
Sharon dikenal sebagai perempuan yang lembut namun tegas, berasal dari keluarga terpandang dan dikenal aktif dalam kegiatan sosial serta keagamaan di lingkungannya. Ia tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang di dunia kesehatan.
Dalam keseharian, Sharon digambarkan sebagai ibu yang hangat dan terbuka. Ia memiliki pembawaan tenang, tutur kata lembut, namun kuat dalam menghadapi cobaan. Sosoknya dikenal oleh banyak orang karena kebiasaannya membantu lingkungan sekitar tanpa pamrih. Tak heran, ketika tragedi menimpa putranya, masyarakat sekitar turut merasakan kehilangan yang mendalam.
Menyoal tragedi Timothy, alih-alih membiarkan amarah menguasai, Sharon membuka pintu hatinya untuk memaafkan dua pelaku perundungan yang diduga bertanggung jawab atas kematian Timothy. Lebih jauh lagi, ia bahkan mengangkat salah satu di antara mereka, Vito Simanungkalit, sebagai anak angkat.
Keputusan itu bukan hal yang mudah. Sharon mengakui bahwa ia melalui masa-masa gelap penuh tangis dan kehilangan. Namun setelah berdoa dan merenung panjang, ia menyadari bahwa dendam tidak akan membawa kedamaian. Ia ingin kematian Timothy menjadi pelajaran dan sumber kebaikan bagi orang lain.
Tragedi yang Mengubah Segalanya
Kasus yang menimpa Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, mengguncang publik nasional. Timothy yang dikenal ramah dan berprestasi, menjadi korban perundungan verbal dan sosial dari teman-teman sekelasnya. Tekanan yang terus ia alami membuatnya terpuruk dan mengalami depresi berat, hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh dari gedung kampus pada 15 Oktober 2025.
Kematian Timothy meninggalkan luka yang dalam, tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi masyarakat yang menyoroti kasus perundungan di lingkungan pendidikan tinggi.
Dalam pertemuan yang penuh haru dengan para pelaku, Sharon tidak mengucapkan kata marah sedikit pun. Sebaliknya, ia memeluk mereka, menatap mata mereka dengan kasih, dan berkata bahwa setiap manusia berhak untuk berubah. Ia meminta mereka memperbaiki diri, menata hidup baru, dan rutin melaporkan perkembangan pribadi mereka kepadanya.