BISNISMARKET.COM - Tujuh tahun berlalu sejak PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) melakukan penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia, namun sebagian besar dana yang berhasil dihimpun masih belum tersentuh. Dana tersebut merupakan saksi bisu dari ambisi perusahaan yang belum terealisasi sepenuhnya.
Perusahaan yang melantai di bursa pada 18 Januari 2019 ini berhasil mengumpulkan dana segar sebesar Rp206 miliar dari publik. Namun, realisasi penggunaan dana tersebut ternyata jauh dari ekspektasi awal yang telah ditetapkan.
Hingga kini, baru sekitar Rp72,28 miliar atau setara 36% dari total dana IPO yang telah digunakan sesuai rencana semula. Sisanya, yang jumlahnya tidak sedikit, masih tersimpan rapi dan belum dialokasikan.
Dana yang belum terpakai ini mencapai angka Rp127,72 miliar, sebuah jumlah yang signifikan. Keberadaan dana ini menjadi sorotan, mengingat rentang waktu yang telah dilalui sejak perusahaan go public.
Saat ini, dana sebesar Rp127,72 miliar tersebut ditempatkan di rekening giro Bank CIMB Niaga. Penempatan dana ini dilakukan sejak 14 Januari 2019 dengan imbal hasil bunga yang terbilang rendah, hanya 1,5%.
"Dana hasil penawaran umum perdana (IPO) PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) sebesar Rp127,72 miliar atau 63,86% masih belum tersentuh hingga kini," demikian informasi yang tersirat dari data keuangan perusahaan.
Informasi ini menunjukkan adanya jeda panjang antara penggalangan dana melalui IPO dan pemanfaatan dana tersebut untuk operasional atau ekspansi bisnis yang sesungguhnya.
Menariknya, di tengah mengendapnya dana IPO ini, muncul wacana mengenai rencana akuisisi tambang. Spekulasi ini mengemuka sebagai salah satu opsi potensial untuk memanfaatkan dana yang ada.
Rencana akuisisi tambang ini bisa jadi merupakan langkah strategis perusahaan untuk mendiversifikasi portofolio bisnisnya. Namun, detail lebih lanjut mengenai target akuisisi dan kerangka waktu pelaksanaannya masih belum diungkapkan secara rinci.