BISNISMARKET.COM - Ketahanan energi nasional Indonesia dinilai masih berada dalam posisi yang rapuh, sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. Kekhawatiran utama muncul karena hingga saat ini Indonesia belum mengelola Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) yang memadai, berbeda dengan standar yang diterapkan oleh negara-negara maju.
Komaidi menjelaskan bahwa standar internasional menunjukkan mayoritas negara menyimpan cadangan energi setara dengan kebutuhan selama tiga hingga enam bulan ke depan. Negara-negara dengan tingkat kemajuan ekonomi tinggi bahkan cenderung memiliki jumlah stok penyangga yang jauh lebih besar dari rata-rata tersebut.
"Secara rata-rata antara 3 sampai 6 bulan cadangan penyangga energi atau SPR yang biasa disebut sebagai strategic petroleum reserve kalau di negara negara lebih maju lagi dia punya stockpile yang lebih besar lagi," papar Komaidi kepada CNBC Indonesia, mengutip pernyataannya pada Jumat (6/3/2026).
Ia menambahkan bahwa penentuan idealitas besaran cadangan energi harus mempertimbangkan berbagai variabel spesifik setiap negara, termasuk potensi gejolak pasokan energi di masa mendatang. Selain itu, kapasitas fiskal dan kemampuan anggaran pemerintah menjadi faktor krusial dalam menetapkan target stok.
Implikasi dari upaya pembangunan cadangan ini sangat signifikan, terutama dari sisi pembiayaan, mengingat mahalnya biaya penyimpanan bahan bakar minyak (BBM). Komaidi mengungkapkan bahwa hanya untuk mengamankan stok BBM selama satu hari saja, dibutuhkan alokasi anggaran yang diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.
Dengan perhitungan tersebut, realisasi cadangan energi untuk memenuhi kebutuhan selama 30 hari dapat menelan biaya negara hingga menyentuh angka Rp60 triliun sampai Rp90 triliun. Kondisi saat ini, stok BBM yang tercatat hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 25 hari saja.
Lebih lanjut, Komaidi menggarisbawahi bahwa stok yang ada saat ini sejatinya bukan merupakan aset negara, melainkan inventori operasional yang dimiliki oleh badan usaha dan belum laku terjual. "Dan ini bagi badan usaha kan sebelumnya berat kalau harus membiarkan uangnya ngendap di situ dalam jangka waktu yang cukup panjang. Biasanya mereka ya cepat biasanya ada barang masuk yang lama keluar," tutupnya.