JAKARTA, BISNISMARKET.COM - Malam 1 Suro merupakan salah satu malam yang dianggap sakral oleh sebagian masyarakat Jawa. Setiap tahun, malam ini selalu menarik perhatian karena kerap dikaitkan dengan berbagai hal mistis, mulai dari larangan menggelar pesta, ritual tirakat, hingga cerita tentang munculnya makhluk gaib. Namun, benarkah Malam 1 Suro identik dengan hal-hal mistis?
Secara sejarah, Malam 1 Suro merupakan malam pergantian tahun dalam kalender Jawa. Tradisi ini berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam yang memerintah pada 1613–1645.
Pada tahun 1633 Masehi, Sultan Agung menciptakan kalender Jawa dengan menggabungkan unsur kalender Saka yang telah lama digunakan masyarakat Jawa dan kalender Hijriah yang digunakan umat Islam.
Melalui kebijakan tersebut, Sultan Agung berupaya menyatukan tradisi budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam yang berkembang pesat di tanah Jawa. Sejak saat itu, tanggal 1 Sura dalam kalender Jawa selalu bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah.
Lalu mengapa Malam 1 Suro sering dianggap mistis? Salah satu penyebabnya adalah karena bulan Sura dipandang sebagai bulan yang suci dan penuh makna spiritual. Dalam tradisi Jawa, malam pergantian tahun digunakan untuk introspeksi diri, berdoa, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Aktivitas tersebut dilakukan dengan suasana yang hening dan khidmat, sehingga memunculkan kesan sakral yang kemudian berkembang menjadi berbagai kepercayaan di masyarakat.
Selain itu, budaya Jawa mengenal konsep keseimbangan antara dunia nyata dan dunia spiritual. Pada Malam 1 Suro, banyak orang meyakini bahwa batas antara keduanya menjadi lebih tipis sehingga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan laku spiritual seperti tirakat, semedi, atau tapa.
Kepercayaan inilah yang kemudian melahirkan berbagai cerita mistis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sejumlah daerah, berkembang pula berbagai pantangan yang dipercaya harus dipatuhi saat Malam 1 Suro.
Misalnya larangan menggelar pernikahan, pindah rumah, atau mengadakan pesta besar. Masyarakat meyakini bahwa mengabaikan pantangan tersebut dapat mendatangkan kesialan. Namun, keyakinan ini lebih merupakan tradisi budaya yang berkembang di masyarakat dan tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.