BISNIS MARKET - Beredarnya video di media sosial yang menunjukkan kerumunan warga mengambil logistik dari toko dan minimarket di Sibolga, Sumatera Utara, yang luluh lantak akibat kombinasi banjir dan longsor, langsung memicu narasi negatif: penjarahan.
Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bergerak cepat dan tegas menepis tudingan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, BNPB menegaskan bahwa tindakan warga yang kelaparan itu adalah murni insting bertahan hidup (survival mode) di tengah krisis yang melumpuhkan akses distribusi bantuan.
"Mereka bukan penjarah! Mereka adalah korban yang sudah berhari-hari kelaparan dan terisolasi," tegas Kepala BNPB.
Klarifikasi BNPB ini muncul setelah Sibolga dan Tapanuli Tengah dilaporkan masih terisolasi total via jalur darat.
Akses utama tertutup timbunan longsor tebal dan jembatan rusak parah. Kondisi ini membuat distribusi bantuan dari Medan atau daerah tetangga terhenti, menyebabkan stok kebutuhan dasar masyarakat, seperti air bersih, makanan instan, dan obat-obatan, menipis drastis.
Warga yang videonya viral mayoritas mengambil beras, mi instan, dan air mineral. Hingga Sabtu 29 November, upaya pembukaan akses darat belum sepenuhnya berhasil, memaksa BNPB harus mendatangkan bantuan melalui jalur laut dan udara menggunakan kapal dan helikopter.
Kondisi inilah yang memicu warga yang belum tersentuh bantuan untuk mengambil tindakan demi memenuhi kebutuhan paling mendesak.
BNPB juga menggarisbawahi bahwa tindakan pengambilan logistik ini dilakukan dalam situasi darurat dan pemerintah setempat telah berkoordinasi dengan kepolisian serta pemilik usaha untuk memastikan aspek hukum tetap dipatuhi.