BISNISMARKET.COM - Pemerintah China melalui Menteri Luar Negeri Wang Yi menyampaikan kecaman keras terhadap eskalasi konflik bersenjata yang kini melanda kawasan Timur Tengah. Sikap tegas ini menegaskan penolakan Beijing terhadap penggunaan kekuatan militer sebagai instrumen utama diplomasi.

Wang Yi secara spesifik menyoroti bahwa perang yang dipicu oleh tindakan militer Amerika Serikat dan Israel tersebut merupakan sebuah tragedi yang seharusnya dapat dihindari. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks upaya China untuk mendorong de-eskalasi regional.

Diplomat top China ini menyampaikan pandangannya tersebut dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di ibu kota negara tersebut. Peristiwa ini menjadi penegasan posisi China di panggung geopolitik global mengenai isu keamanan regional, dilansir AFP.

Secara tegas, Wang Yi menyatakan bahwa konflik yang terjadi saat ini adalah hasil dari serangkaian provokasi yang melibatkan kekuatan besar, yaitu serangan yang dipicu oleh AS dan Israel terhadap Iran. Ia menekankan bahwa situasi ini tidak seharusnya terwujud.

Dalam kesempatan tersebut, Wang Yi juga menyampaikan pesan penting kepada Amerika Serikat mengenai perlunya penyelesaian perbedaan pendapat yang ada. China mendesak Washington untuk mencari jalur dialog damai, bukan konfrontasi.

Salah satu poin sentral dari pidatonya adalah penolakan terhadap premis bahwa kekuatan militer dapat membenarkan tindakan agresif. "Tinju yang kuat tidak berarti alasan yang kuat," ujar Wang Yi.

Lebih lanjut, Wang Yi memberikan peringatan keras mengenai prinsip dasar tata kelola dunia. Ia menegaskan bahwa tatanan global tidak boleh kembali pada prinsip dasar yang paling primitif dalam interaksi antarnegara.

"Dunia tidak dapat kembali ke hukum rimba," kata Wang Yi, menekankan pentingnya supremasi hukum internasional di atas kekuatan militer unilateral.

Pernyataan ini disampaikan oleh Wang Yi saat konferensi pers berlangsung di ibu kota China, sebuah informasi yang validasi lokasinya dilansir AFP pada Minggu (8/3/2026).