BISNISMARKET.COM - Korea Utara kini dilaporkan tengah memacu pengembangan program nuklirnya secara masif. Langkah provokatif ini memicu alarm kewaspadaan internasional di tengah kebuntuan jalur diplomasi global yang tak kunjung menemui titik terang.

Dilansir dari The Guardian, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengungkapkan bahwa Pyongyang telah mencapai kemajuan yang sangat signifikan dalam kapasitas produksi senjata pemusnah massal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kunjungannya ke Seoul pada pertengahan April 2026.

"Aktivitas di kompleks nuklir utama Yongbyon mengalami intensifikasi pesat, mencakup pekerjaan pada reaktor 5 megawatt, fasilitas pemrosesan ulang, hingga reaktor air ringan," ujar Rafael Grossi.

Sejumlah pakar memperkirakan bahwa Korea Utara saat ini telah memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir. Meski demikian, kemampuan miniaturisasi hulu ledak agar dapat dipasangkan pada rudal balistik jarak jauh masih menjadi perdebatan di kalangan pengamat militer.

Sejarah mencatat bahwa sejak uji coba nuklir perdana pada 2006, Pyongyang terus mengasah taring militernya. Di bawah kendali Kim Jong Un sejak 2011, pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) kian dipercepat guna menjangkau daratan Amerika Serikat.

Analisis mendalam mengenai perkembangan ini juga dilansir dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Melalui proyek Beyond Parallel, citra satelit menunjukkan bahwa Korea Utara telah merampungkan fasilitas pengayaan uranium baru di Yongbyon.

"Produksi uranium yang diperkaya ini akan secara signifikan meningkatkan jumlah persenjataan nuklir yang dapat dimiliki oleh Korea Utara," tulis laporan dari lembaga pemikir tersebut.

Selain Yongbyon, indikasi keberadaan fasilitas serupa ditemukan di wilayah Kangson, dekat Pyongyang. Lokasi misterius ini diduga kuat menjadi tempat pengayaan uranium rahasia yang belum pernah dilaporkan kepada otoritas nuklir internasional.

"Meskipun tidak ada bukti perubahan signifikan di lokasi Punggye-ri, fasilitas tersebut tetap dinilai siap untuk digunakan dalam uji coba nuklir kapan saja," kata Rafael Grossi.