BISNISMARKET.COM - Polemik suksesi Kasunanan Surakarta kembali mengemuka setelah munculnya konflik antara pihak keluarga yang mendukung Pangeran Purboyo dan kubu lain yang mendorong penetapan KGPH Hangabehi sebagai penerus takhta. Ketegangan itu mencapai puncaknya ketika dua klaim kepemimpinan muncul hampir bersamaan, memicu kebingungan publik serta perdebatan internal di tubuh keraton. 

Di tengah suasana duka wafatnya Pakubuwono XIII, dinamika politik keluarga justru bergerak cepat, hingga akhirnya Hangabehi dinobatkan sebagai Pakubuwono XIV oleh forum keluarga besar dan lembaga adat. Penobatan ini tidak lahir secara tiba-tiba, ada sejumlah alasan adat, historis, dan internal yang membuat Hangabehi dianggap sebagai sosok yang paling layak melanjutkan kepemimpinan Kasunanan Surakarta.

Untuk memahami mengapa Hangabehi dinobatkan sebagai raja, kita perlu meninjau dasar adat, proses keputusan keluarga, dan situasi politik di dalam keraton saat ini.


1. Paugeran Keraton, Putra Laki-Laki Tertua sebagai Pewaris Utama
Alasan paling mendasar yang dikemukakan oleh pihak yang memilih Hangabehi adalah ketentuan adat keraton (paugeran) yang menyebutkan bahwa putra laki-laki tertua berhak menduduki posisi sebagai penerus takhta apabila raja sebelumnya tidak memiliki permaisuri resmi. 

Hangabehi dianggap memenuhi syarat tersebut karena ia adalah putra tertua dari almarhum Pakubuwono XIII, sehingga dianggap sebagai pewaris paling sah menurut garis keturunan langsung.


2. Diputuskan dalam Rapat Besar Keluarga dan Lembaga Adat
Penobatan Hangabehi ditetapkan melalui forum resmi keluarga besar dan Lembaga Dewan Adat yang dihadiri sentana dalem, abdi dalem, serta perwakilan sejumlah kabupaten yang terkait dengan keraton. 

Forum ini menyatakan bahwa keputusan mereka diambil kolektif, bukan berdasarkan tekanan dari pihak luar. Setelah kesepakatan ditetapkan, hasil musyawarah kemudian dibawa kepada pemerintah sebagai bentuk pemberitahuan, bukan permintaan penetapan.


3. Pertimbangan Legitimasi Historis dan Budaya
Penggunaan nama dan gelar Hangabehi dianggap memiliki nilai historis yang kuat dalam tradisi keraton. Dalam sejarah Mataram dan Surakarta, gelar Hangabehi beberapa kali digunakan oleh tokoh besar yang memegang posisi strategis dalam struktur keluarga kerajaan. Elemen historis ini dipandang memperkuat legitimasi budaya Hangabehi sebagai penjaga kelestarian adat dan simbol keberlanjutan trah Pakubuwono.


4. Upaya Menyatukan Kerabat dan Mengakhiri Konflik Lama
Salah satu alasan lainnya adalah keinginan untuk mengakhiri perpecahan panjang yang pernah terjadi di dalam tubuh keraton. Tokoh-tokoh keluarga besar menyampaikan bahwa penetapan ini dimaksudkan untuk menciptakan satu kesatuan, merangkul kembali abdi dalem dan sentana yang sebelumnya terbelah, serta memastikan bahwa keraton dapat berjalan dengan lebih stabil setelah periode konflik internal yang memuncak pada beberapa tahun terakhir.