BISNIS MARKET - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi sorotan publik, tidak hanya karena kasus keracunan massal yang terjadi di beberapa daerah, tetapi juga karena potensi dampaknya terhadap pasokan dan harga daging ayam nasional.
Kebutuhan masif akan protein hewani untuk menyukseskan program ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang, peternak, dan ekonom, bahkan hingga munculnya peringatan tentang krisis pasokan ayam.
Program MBG, yang dikelola melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum, memerlukan suplai bahan baku dalam jumlah besar dan berkesinambungan. Daging ayam dan telur merupakan komponen protein utama dalam menu MBG.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri pernah mewanti-wanti bahwa Indonesia berpotensi kekurangan pasokan ayam dan telur jika peningkatan permintaan ini tidak diikuti oleh pertumbuhan jumlah peternak baru.
Sebagai gambaran, satu SPPG diperkirakan membutuhkan ribuan ekor ayam per bulan. Jika dikalikan dengan ribuan SPPG yang beroperasi di seluruh Indonesia, lonjakan permintaan ini jelas menempatkan tekanan luar biasa pada rantai pasokan.
Di berbagai daerah, keluhan mengenai kenaikan harga daging ayam mulai terdengar. Pedagang ayam keliling dan di pasar tradisional mengeluhkan kenaikan harga yang signifikan, membuat daya beli masyarakat menurun sementara stok di pasar menipis.
Banyak pedagang menduga, salah satu penyebab kenaikan harga ini adalah mekanisme pembelian yang tersentralisasi untuk MBG.
Program ini diduga menyerap pasokan ayam langsung dari kandang atau distributor besar dalam volume masif. Akibatnya, ketersediaan untuk pedagang kecil berkurang drastis, yang otomatis mendorong harga jual eceran naik.
Jika harga ayam melonjak tanpa diikuti kenaikan daya beli, pedagang kecil adalah pihak yang paling terhantam.