BISNISMARKET.COM - Awan mendung mulai menyelimuti sektor industri manufaktur di tanah air seiring dengan memanasnya tensi geopolitik di wilayah Timur Tengah. Ketidakpastian global ini diprediksi akan membawa dampak sistemik yang cukup serius bagi stabilitas ekonomi nasional dalam waktu dekat.

Sektor dunia usaha kini sedang berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap berbagai gangguan eksternal yang tidak terduga. Jika situasi keamanan internasional tidak segera membaik, kelancaran operasional berbagai perusahaan besar di Indonesia bisa berada di ujung tanduk.

Kekhawatiran mendalam ini mencuat menyusul adanya gangguan signifikan pada jalur perdagangan internasional yang menjadi urat nadi industri. Hal tersebut dilansir dari program Squawk Box CNBC Indonesia yang disiarkan pada Rabu, 15 April 2026.

"Dunia usaha berpotensi mengalami gangguan besar, bahkan aktivitas produksi terancam berhenti total pada Mei mendatang akibat terhambatnya rantai pasok global gara-gara perang Timur Tengah," ujar Bob Azam.

Bob Azam, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), memberikan peringatan keras ini kepada para pemangku kepentingan. Beliau melihat adanya risiko nyata yang menghantui proses pengadaan bahan baku industri manufaktur saat ini.

Eskalasi konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu kekacauan pada sistem logistik dunia. Jalur pengiriman barang yang melewati area konflik kini menjadi sangat berisiko dan memakan biaya operasional yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Keterlambatan pengiriman komponen penting dan bahan mentah dipastikan akan mengganggu jadwal produksi yang sudah disusun secara ketat oleh para pengusaha. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu efek domino yang merugikan banyak pihak, termasuk stabilitas lapangan kerja.

Bulan Mei 2026 diprediksi akan menjadi titik krusial bagi ketahanan industri di Indonesia dalam menghadapi tekanan global. Tanpa adanya solusi cepat untuk mengamankan rantai pasok, penghentian operasional pabrik secara massal bukan lagi sekadar kekhawatiran belaka.

Para pengusaha kini sangat berharap adanya langkah mitigasi yang konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas sektor industri nasional. Koordinasi yang kuat antara sektor swasta dan regulator menjadi kunci utama dalam menghadapi badai ekonomi global yang sedang melanda.