JAKARTA, BisnisMarket.com - Siapa sangka di balik gemerlap bisnis tambang, tersembunyi cerita pilu yang membuat pusing tujuh keliling. Sebuah kabar mengejutkan datang dari PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Patrick Walujo. Bagaimana tidak, di tahun 2025 lalu, perusahaan ini harus menelan pil pahit dengan membukukan rugi bersih yang fantastis, mencapai US$116,2 juta atau setara dengan Rp1,93 triliun (asumsi kurs Rp16.666 per dolar AS)! Angka ini membengkak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang 'hanya' merugi US$61,31 juta atau sekitar Rp989,29 miliar (asumsi kurs Rp16.129 per dolar AS). Apa gerangan yang terjadi di balik layar perusahaan tambang ini? Mari kita selami lebih dalam.
Terbongkar! Biang Kerok Kerugian Menggunung Emiten Patrick Walujo
Melalui keterbukaan informasi yang dirilis, manajemen DOID akhirnya buka suara mengenai tekanan kinerja yang menghantam mereka di tahun 2025. Ternyata, dua musuh utama yang menjadi biang kerok adalah gangguan operasional yang tak terduga dan biaya non-operasional yang membengkak tak terkendali. Direktur DOID, Iwan Fuad Salim, membeberkan bahwa produksi mengalami gangguan signifikan pada awal tahun 2025. "Cuaca buruk serta penghentian dan penyelesaian sejumlah kontrak di Indonesia dan Australia menjadi penyebab utama," ungkapnya.
Kondisi ini menekan volume overburden turun 19 persen dan produksi batu bara turun 6 persen, sehingga pendapatan ikut merosot 16 persen menjadi US$1,48 miliar. Tekanan tak berhenti di situ, sisi profitabilitas pun ikut menjerit. EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) turun menjadi US$175 juta. Menurut manajemen, EBITDA bakal berada di posisi US$207 juta dengan margin 17 persen apabila biaya pesangon tidak diperhitungkan. "Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat," kata Iwan dikutip dari keterangan resmi, Minggu (29/3/2026) via Bloomberg Technoz.
Beban Ganda: Kerugian Operasional dan Non-Operasional
Lebih miris lagi, di luar dari masalah operasional, perseroan mencatat rugi karena adanya beban non-underlying. Perseroan mencatat penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset (impairment) pada operasi di Australia dan Amerika Serikat. Sebagian besar saham DOID saat ini sekitar 38,21 persen lembar dipegang oleh NorthStar Tambang Persada, salah satu kendaraan investasi yang dikendalikan Grup Northstar milik Patrick Walujo dan Glenn Sugita.
Secercah Harapan di Tengah Badai Keuangan
Meskipun badai kerugian menerpa, sebenarnya ada beberapa faktor yang berhasil menahan penurunan lebih dalam. Keuntungan nilai wajar US$41 juta dari investasi di 29Metals dan keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta memberikan sedikit nafas lega. Namun, kontribusi ini belum cukup untuk menutupi tekanan utama yang ada.
Meski demikian, perseroan mengklaim mulai mencatat pemulihan bertahap di paruh kedua tahun 2025, ditandai dengan perbaikan arus kas bebas (free cash flow). Perseroan membukukan arus kas bebas positif sebesar US$8 juta pada 2025, berbalik dari posisi negatif US$60 juta pada 2024. Adapun pada kuartal IV-2025, arus kas bebas tercatat sebesar US$57 juta, sekaligus diklaim menjadi capaian kuartalan tertinggi sepanjang tahun. "Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan," kata Iwan.